Terkurung di dalam rumah selama sehari, sendiri, dengan sesuatu yang disukai: wifi, tivi kabel, buku, listrik, uang untuk beli makan siang. Bukankah nyaman? Kamu bisa internetan sepuasnya tanpa ada yang mengganggu, menonton semua film yang mungkin akan sangat canggung jika ditonton di ruang tamu saat rumah sedang ramai. Terima kasih untuk listrik yang mempercepat waktu. Hebat sekali kau tidak mengecewakan sampai sekarang. Oh ya, tadi aku menyebutkan buku. Terkadang membaca itu perlu jika semua saluran tivi yang bagus dihabiskan hari itu juga.
Sungguh sekali lagi aku katakan; Terkurung. Bukan maksudku ingin mengurung diri sendiri di rumah. Merasakan semua fasilitas ini sendirian dan tidak mengharapkan kebosanan. Pada kenyataannya aku merasa begitu bosan. Ada yang aneh di rumah, pekerjaan rumah yang menumpuk ditinggalkan begitu saja oleh yang lainnya. Aku diharapkan untuk menyelesaikan semuanya sementara wifi itu sangat menggiurkan! Aku bukan seorang multitasking! Aku hanya suka bermalas-malasan di hari libur tanpa gangguan, tanpa pekerjaan rumah, tanpa bensin kosong yang harus diisi dulu padahal hanya untuk ke indomaret saja. Bahkan ke Indomaret aku bingung harus membeli apa. Indomie? Bosan. Ice cream? Sedang batuk. Roti keju? Habis. Bir? Aku lupa, sudah tidak lagi. Sarsaparila? sedang tidak ingin. Lalu apa? Untuk apa aku ke Indomaret? Oh ya, untuk mengusir kebosanan terkurung seharian di dalam rumah. Lantas aku mengambil cheddar mini dan sup ayam instan. Hanya untuk mencampurkannya menjadi satu di dalam panci mendidih. Memakannya sambil menonton film aksi yang tidak akan enak jika ditonton bersama orang lain di rumah ini yang masih kecil, atau yang kadang sering menanyakan sesuatu saat film berjalan. Diam dan tontonlah dengan tenang!
Ya ampun, apa aku begitu menyukai ketenangan sampai sekarang rasanya menjadi sangat bosan?
Aku tidak begitu sering lagi tinggal di rumah sendirian. Selalu ikut ke mana orang tuaku pergi, atau malah dipaksa ikut atau nanti kena omelan mereka. Jika bisa, aku ingin sekali memiliki tempat tinggal sendiri. Sendirian, kemudian menjadi bosan sehingga akan kuundang beberapa teman. Dan kembali merindukan kesunyian sehingga mereka bisa aku usir kapanpun.
Keuntungan dari tinggal sendiri, adalah tidak seperti ini. Tidak seperti perasaanku sekarang. Menanti-nanti orang rumah untuk pulang sampai selarut ini. Hanya untuk tahu mereka sampai dengan selamat itu sudah membuatku bosan. Aku ingin mereka tiba secepatnya. Sehingga aku bisa mendengar suara lagi selain isi pikiran dan lagu-lagu di Soundcloud.
Seandainya aku tingga sendiri, aku tidak akan mempunyai perasaan cemas seperti ini. Secuek-cueknya aku, mengetahui orang-orang rumah belum pulang, tetap saja membuatku gelisah.
Kadang aku merasa aneh. Di saat aku ingin sendiri karena mereka yang begitu ribut, saat sendiri seperti ini, di rumah luas yang sepi ini, aku merindukan keributan mereka. Tampaknya aku akan lebih konsen menulis jika ada suara orang-orang yang aku kenal sepanjang hidupku itu. Maka dari itu aku memutar musik keras-keras, mematikan semua listrik yang tidak diperlukan sebab aku adalah orang yang cerewet masalah listrik, memanfaatkan wifi sebaik mungkin untuk mempelancar streaming soundcloud, menata buku apa yang akan aku baca terlebih dahulu saat aku sedang bosan menulis. Atau lebih tepat bingung, ngandat, buntu, apa yang sedang ingin ditulis.
Aku tidak ingin terlalu lama menunggu seseorang pulang di dalam rumah sepi. Tanpa ada kepastian. Tanpa ada perasaan tak enak merindukan kebisingan yang akrab. Meskipun begitu, pada saatnya aku akan mengalaminya kembali.
Hanya saja, terkurung di dalam rumah dengan segala fasilitas yang ada lebih membosankan daripada bersama kegelisahan yang menggelitik otak kiriku. Aku mengetik begitu cepat sampai lagu rasanya tidak terlalu terdengar. Kemudian aku berhenti dan ingin membaca kembali tulisan. Hanya saja berhenti begitu saja karena aku berpikir akan memakan waktu lagi untuk menulis kembali.
Maka aku akan terus menulis saja. Ini salah satu cara menghilangkan kegelisahan, kebosanan.
Aku ingin pergi saja ke alun-alun. Membaca di bangku. Tapi di luar terlalu ramai. Apalagi sekarang malam idul adha. Alun-alun dekat masjid, yang membuat suasana menjadi sangat meriah dijalanan. Bukan karena aku membenci keramaian. Aku hanya sedang tidak ingin. Aku sedang menikmati jari-jariku mengetik di laptop yang seharusnya digunakan untuk bekerja. Tapi sekarang filenya lebih banyak aku penuhi dengan naskah-naskah tak jadiku.
Sekarang, apa kamu sudah bosan membaca semua ini?
Ini yang aku sebalkan tentang blog. Dia bisa dibaca siapa saja. Dia bisa membuatmu ikut gelisah dengan ketidakseriusan seseorang mengurus tulisannya di blognya sendiri. Sebuah omong kosong. Catatan pribadi. Ketidakkonsistenan.
Kerinduanku kini terbayar, karena aku mendengar suara mobil mereka di depan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar