Uda berapa tahun ya aku ngga baca cerita yang bikin nyesek gini? padahal dulu aku uda bertekad bakalan ga lagi baca cerita mellow kayak gini. setelah aku berkali-kali dipermainkan cinta, aku uda males yang namanya novel cinta. tapi untuk yang satu ini, aku dikibulin..
Aku beli buku ini gara-gara baca ringkasan ceritanya. haha, gara-gara ringkasan yang keliahatannya seru buat dibaca karena ada dirty wordsnya, aku pun beli. dirumah, novel ini berhasil menyita 3 jamku dengan 264 halamannya. emosiku dipermainkan dengan novel ini. terutama oleh spekulasi-spekulasi yang ditulis oleh Karla M. Nashar ini. bener-bener nguras ati.
Di novel ini juga bikin aku bolak-balik buka kamus. banyak banget kosa kata english yang aku ngga tau. pada dasarnya cerita ini memang tentang cinta. tapi ada satu lagi, novel ini menceritakan tentang sebuah prinsip. bahkan karena sebuah prinsip itu pula sebuah takdir yang indah bisa terjadi meski harus menyita banyak sekali air mata.
Lana, sang tokoh utama dalam novel ini membuatku sebagai seorang cewe merasa minder. dimana dia begitu teguh setelah beberapa kali putus cinta. dan dia tetep bekerja keras sambil melupakan masa lalunya yang kelam. Lana punya prinsip yang teguh. tetapi ada seorang cowo bernama Fabian, partnernya dari Italia, yang berusaha meruntuhkan prinsip itu dengan rayuan-rayuan gombal dan kata-kata cinta. berkali-kali Lana merasa jengkel dengan cowo satu ini karena begitu mudahnya ceplas-ceplos mengolok prinsipnya. sampai akhirnya Lana berhasil membuat Fabian cemburu karena Lana sudah mempunyai seorang pacar, dan pacarnya ingin menikahinya. tapi karena Lana yang tidak mendengarkan kata-kata Fabian kalo pacarnya punya pikiran jahat yang sama dipikirkan oleh mantan-mantan Lana dulu, Lana merasa menyesal. bahkan saat Fabian tiba-tiba kembali ke kantornya yang ada di Roma.
Berbulan-bulan mereka berpisah sampai akhirnya mereka bertemu kembali pada suatu pagi yang beku di Time Squre New York. dan kenyataan pahit tentang Fabian itu pun perlahan terkuak. pertunangan yang sebenarnya Lana inginkan untuk memenuhi sebuah janji, tapi tidak bisa dia lakukan sebelum dia menutup kisah cintanya dengan sebuah kalimat yang dari dulu selalu ingin dia ucapkan ke Fabian. untuk membalas ucapan cinta Fabian.
Dan cerita ini bener-bener sukses bikin aku galau sampai sekarang...
Quotes from this book ;
'Kalo dia jodohmu, pasti Tuhan meluluskan jalanmu dengan dia.'
'I don't have to justify my status to you or anybody. I meant what I've said. And yes, I'm proud of it, okay?'
'Kalo kita mengaduk kopi, biasanya sendok kita yang goyang kan? Nah, dalam kasus ini, justru gelasnya yang bisa bergoyang sendiri.'
'Terlalu banyak lelaki di dunia ini yang begitu tolol mengira semua bisa dibeli dengan uang.'
'He'll be damn lucky to have you.'
'Ada yang bilang, kalau menyumbuhkan hati yang luka karena ditinggal mati kekasih lebih sulit daripada menyembuhkan hati yang luka karena cinta yang putus.'
Setelah baca buku ini, aku jadi tau. kata-kata Fabian 'Some thing better left unspoken,' itu ga boleh ada dalam kamus percintaan. karena semua perlu a closure, penutupan. kata-kata penutupan yang harus diucapkan agar tidak meninggalkan luka. tapi buku ini tidak diperuntukkan buat orang-orang galau, lho. buku ini bener-bener buku yang menunjukkan sikap optimis seorang perempuan yang berjanji untuk tidak akan kalah sama yang namanya cinta. apalagi kata-kata puitis di buku ini. very sweet.
Akhirnya kesukaanku pada puisi romance muncul lagi setelah membaca buku ini. bener, cinta dengan pengorbanan itu adalah suatu cinta yang tulus. tapi, cinta tanpa air mata belum tentu bisa dikatakan sebuah akhir cinta yang bahagia.

































