Desember 18, 2012

5 CM, Cinta, dan Renungan Di Tengah Hujan.

Jauh-jauh hari aku dan sahabatku @fika_yosaria merencanakan untuk menonton sebuah film yang sudah lama aku tunggu-tunggu. Sebuah film yang sebenarnya tidak terlalu menarik buatku... Karena aku sudah pernah membaca novelnya pada tahun 2010. Meminjamnya di perpustakaan sekolahku, SMA MUHAMMADIYAH 2 SIDOARJO.

Kalo tidak ada Herjunot Ali yang berperan sebagai Zafran, aku pasti tidak penasaran. :))

Ya, 5 CM. Novel pertama Indonesia yang membuatku merinding. Pertama kali melihat sampulnya yang hitam polos dengan tulisan 5 CM di bagian atas tengah dengan ukuran besar, ternyata kalo dilihat dari dekat disampul hitam itu ada tulisan timbul. Sebuah kata-kata yang sayangnya sudah aku lupakan... Membalik halaman satu demi satu, banyak kata-kata yang indah. Pemikiran yang kritis, filosofi yang membuat tercengang. Lagu-lagu 90-an yang menjadi backsound di setiap pernyataan mereka. Menjadi kan sebuah lagu sebagai perwakilan hati.

Haaa... saat baca novelnya aku ngga kepikiran bagaimana jika novel ini dijadikan sebuah film? Menurutku pada saat itu perfilman Indonesia sedang sangat terpuruk karena banyaknya film-film tidak bermodal dan memberikan dampak negative pada anak-anak zaman sekarang.

Rencana, kadang tidak bisa seperti apa yang kita harapkan. Sebenarnya bukan karena filmnya, tapi karena bisa jalan-jalan sama sahabat-sahabatku makanya aku ingin pergi dan mengajak mereka nonton 5 CM.
Tapi apa daya, semuanya malah ngga bisa. Ada sih yang bisa, tapi, jalan sama cowok, apalagi mantan yang meskipun aku anggap sebagai teman itu, tetap saja bikin ngga nyaman. Akhirnya, cuma aku dan Fika saja yang pergi hari itu...

Di mulai dari jam 1 siang dimana aku bangun tiba-tiba karena Caca membangunkanku karena Fika sudah datang untuk menjemputku. Siang itu kami berdua bertekad ingin pergi ke Royal untuk mencari buku. Kami sedikit tidak tertarik dengan film 5 CM.
Kami naik bemo kuning. Dan itu pertama kalinya aku naik bemo kuning setelah satu tahun tidak pernah karena aku pindah ke Bontang untuk sementara. Ya, ini bulan ke-4 aku di Sidoarjo lagi. Kembali menetap disini. Jujur, banyak yang bisa aku lakukan disini. Seperti mbolang bareng Fika siang itu.

Menuju ke arah Surabaya gerimis-gerimis kecil membasahi kaca depan bemo. Tapi si sopir tidak mengaktifkan wipernya. Lama-kelamaan di arah Gedangan hujan mulai turun dengan deras. Aku dan Fika bersyukur tidak jadi mengajak para cowok. Masalahnya, cowok itu adalah mantanku dan mantan gebetan Fika ^^
Aku ngga mau membayangkan bagaimana jadinya kalo kami terjebak di tengah hujan. Bisa-bisa 'dia' kembali mengenang masa lalu yang aku anggap pahit itu. Pengalaman yang membuatku tertawa sinis jika harus mengingatnya kembali.

Sekitar satu jam bemo kami akhirnya sampai juga di Royal. Disitu kami malah langsung mengecek jadwal pemutaran film 5 CM. Kalo dipikir-pikir lagi, ngga ada salahnya juga sih nonton siang itu. Mumpung ada uang...

Akhirnya, kami menemukan pemutaran jam 14:40 di kursi yang strategis. Kursi paling atas. A4 dan A5. Memang, kalo nonton itu lebih enak sama orang yang bikin nyaman. Misalnya sahabat. Dan harus ngajak orang yang ngga terlalu norak. Kalo filmnya lagi lucu, ketawa sah-sah aja. Tapi jangan sampai terlalu ngakak. Itu bikin risih juga... Dan jangan bawa temen nonton yang bolak-balik ngecek hape. Niat nonton atau bikin rusuh? Bukan mau ngelarang juga sih bales sms. Tapi di bioskop memang dilarang menyalakan hape, kan? Semua orang juga pasti tahu layarnya yang bercahaya itu yang mengganggu. Dan jangan mengajak orang yang emang pada dasarnya ngga ada 'hati' sama film itu. Percuma bayar mahal-mahal tapi disana cuma bisa menggerutu capek dan ngantuk. Kalo ngantuk ya tidur aja. Ngga usah pake acara ngeluh sampai tetangga sebelahnya risih.

Dan yang terakhir, ini uda mau tahun 2013, dan kamu masih jadiin tempat bioskop buat mesum sama pacar? Norak. Tempat mesum itu ada sendiri ya. Kalo di bioskop nonton ya nonton. Kalo mesum di kamar hotel aja atau tempat kost. Kalo ngga berani disana ya jangan mesum.

Itu tadi beberapa orang yang 'Ngga boleh dibawa pada saat menonton di bioskop'. Karena bioskop itu tempat umum, kita harus sopan. Oia, satu lagi, jangan meletakkan kaki di kursi depan. Apalagi menyendenkan kaki disana. Alhasil orang di depan kita itu bakal risih. ^^

Setelah nonton 5 CM yang berakhir sekitar jam 5 kurang. Aku dan Fika berjalan keluar dan mencari makan. Mengobrol sedikit tentang film dan novelnya yang memang tidak terlalu sama. Toh itu sudah menjadi hal yang mutlak. Dan adegan favorite kami, saat Zafran a.k.a Herjunot Ali menyuruh Dinda a.k.a Pevita Pearce Melongok keluar dari pintu kereta dan melihat pemandangan yang membiarkan angin menerpa wajahnya. Adegan itu mirip Titanic ^^ dan Zafran membisikkan 'I Love You' tanpa suara di telinga Dinda. Bikin iri...

Entah kenapa setelah ngomongin itu kami berdua membicarakan tentang indahnya jatuh cinta. Fika sendiri sedang memendam perasaan kepada seseorang. Sedangkan aku? Aku malah tidak terlalu memikirkan hal itu. Aku sudah capek jatuh cinta. Aku ingin menikmati masa sendiri seperti yang aku lakukan selama ini.
Kami membicarakan, bagaimana jadinya kalo kami jalan sama seseorang yang bikin kami ngerasa ngga nyaman? 'Jalan', adalah alasan dimana kita pergi meninggalkan rumah. Pergi menjauh dari semua kenyamanan yang ada. Lantas jika kita pergi bersama seseorang yang bikin ngga nyaman adalah pilihan yang buruk. Mending aku mendekam di dalam rumah dengan segala kenyamanannya daripada menentang bahaya di luar sana bersama dengan orang yang tidak aku inginkan.

Hari semakin gelap saat aku dan Fika keluar dari mal Royal. Hujan. Fika mengeluarkan payungnya. Tapi aku sedang menginginkan hujan. Kami memilih memutar naik bemo kuning karena bahaya menyebrang di tengah-tengah hujan ini. Kendaraan pasti ramai. Di bemo yang sepi dengan hujan yang semakin deras, kami berdua kembali merenung.

'Setelah udah pernah ngerasain pacaran, aku jadi tahu apa alasan orang tuaku ngelarang buat pacaran.'
Fika mengangguk, 'Iya, selain bikin sakit hati, kita bisa boros juga.'
'Eh, ngomong-ngomong, kamu ngga mau nyatain perasaan kaya Riani? Kalo kamu bilang, pasti sikapnya sekarang uda kaya Zafran.' tiba-tiba aku malah bertanya seperti itu.
'Masalahnya, Nad, waktu itu kan si Zafran ngga sengaja dengerin Riani ngomong gitu...'
'Oh, iya...'

Semakin dewasa kami, main-main sama perasaan itu udah ngga zamannya lagi. Setiap orang boleh aja kok membohongi perasaan mereka. Tapi nanti juga bakal menyesal. Cinta. Apa sih cinta itu? Ada yang bilang cinta itu hanya ilusi. Orang yang saling jatuh cinta adalah orang yang berhalusinasi. Lalu, apa yang disebut kenyataan adalah kesendirian?

Malam itu bemo berjalan dengan lambat. Ngetem sana-sini mencari penumpang. Pembicaraan kami berdua masih seputar pencarian seorang pria. Orang yang bisa membuat nyaman. Bukan seorang anak ABG yang hanya bisa hura-hura. Sudah saatnya untuk serius mengenai masalah hati. Sudah saatnya percaya, kalo cinta itu bukan dicari, tapi ditemukan dengan caranya sendiri dan disaat yang tepat. Bukan disaat emosi diri masih terlalu labil.