Agustus 04, 2015

Pergi Yang Bagiku Itu Memang Seperti Ini

Yang membuat jalan sendiri dikeramaian begitu tidak terlalu menyenangkan, sebab tidak adanya teman mengobrol. Teman pilihan yang akan selalu diajak jalan tanpa paksaan. Teman yang membuat perjalanan menjadi berarti meski sedikit mengesalkan. Tapi tetap berarti.

Pergi.

Pilihan untuk keluar dari rumah. Ke tempat yang ditujukan bukan untuk bertemu dengan siapa-siapa. Pergi, mengurus urusan sendiri atau pun dengan teman. Pergi, untuk mengisi waktu luang membosankan untuk mencari kebosanan lainnya atau hal baru menyenangkan lainnya. Pergi, jauh maupun dekat yang berjarak hanya 20 menit dari rumah bagiku sudah merupakan perjuangan. Sebab pergi sendiri tak akan begitu menyenangkan jika tidak terbiasa. Pergi tanpa tujuan pun jarang ada yang melakukannya. Tapi dengan seorang teman, pergi tanpa tujuan pun, tanpa uang banyak yang bahkan sangat tipis, tanpa dandan rapi karena memang merasa tidak perlu berdandan pun, dengan adanya seorang teman pergi adalah cara terbaik untuk mengusir penat.

Ah, kamu tidak seperti itu? Kamu tipe orang yang suka pergi jika ada tujuan? Jika ada uang yang lebih dari cukup mungkin sekadar uang bensin? Yang perlu memperhatikan penampilan? Yang seorang, dua orang, tiga orang teman saja menurutmu tidak cukup untuk diajak pergi? Yang tidak mempermasalahkan tunggu-menunggu yang penting bisa kumpul meski sedikit berbicara banyak menatap handphone?

Waktu memang cepat berlalu, tapi kenang-kenangan hanya sebuah foto memperlihatkan wajah kalian yang tersenyum dengan banyak komentar di sana.
Atau tidak.
Karena bagimu, itu sudah pergi. Sudah keluar dari rumah. Keluar untuk bertemu. Pergi untuk berkunjung. Pergimu, pergi yang bagimu menyenangkan untuk menghabiskan hari itu.

Bagiku pergi, bukan karena pergi bersama seorang teman yang menyenangkan.
Bagiku pergi, adalah, keluar dari rumah, keluar dari pergaulanku, keluar dari zona nyamanku, di mana aku berjalan dengan ragu dikeramaian, dengan badan tegap yang perlu aku jaga agar terlihat percaya diri, langkah cepat kepala menoleh kaku ke kiri-kanan melihat keadaan toko maupun jalan seolah-olah menikmatinya, memasang senyum yang tidak perlu dan lebih sering memang tak tersenyum.

Pergi, menurutku, menuju zona tidak nyamanku di mana banyak orang yang pergi dengan teman baiknya dan kelompok-kelompoknya, dengan keluarganya, dan melalui waktu yang terasa cepat. Malam larut, suara adzan magrib dan senja, pagi tenang hanya terdengar suara mobil yang menuju pulang. Pergi, menurutku, menghabiskan waktu sendiri, menghukum diri sendiri untuk tidak terlalu banyak bicara, menjauhkan diri dari obrolan yang itu-itu saja, untuk menguji diriku; apa aku bisa bertahan untuk tidak bergantung pada orang lain yang selalu menemaniku?

Pergi sendiri menurutku lebih menyenangkan. Waktu terasa lambat. Melihat keluarga dan kelompok remaja lainnya berjalan saat aku duduk sediri makan siang atau bahkan saat makan malam. Pergi menghabiskan waktuku sendiri tak menghiraukan orang lain, tak menghiraukan handphoneku, tak mendengarkan lagu melalui earphoneku, tak menghiraukan godaan orang lain, tak menghiraukan waktu yang ternyata berjalan lebih lambat saat aku sendiri. Bagiku pergi seperti itu yang benar-benar pergi. Sebab pulangku akan terasa menyenangkan saat melihat keramaian yang akrab bagiku nanti.

Kenyataan bila waktu berjalan lebih lambat saat aku sendiri, lama-kelamaan malah aku nikmati. Ah, buku, sekali lagi menjadi senjata ampuh menyingkirkan kebosanan. Ah, langit luas, sekali lagi membuat tersenyum. Ah, kalian, manusia-manusia dengan tingkah lakunya yang ajaib, membuatku mendapat inspirasi. Ah, mengunyah makanan, menyesap minuman, menggigit kukuku, pengalih perhatian yang bagus. Melamun, tiga paragraf penuh coretan di kertas atau catatan di handphone bisa membuat waktu yang begitu lama menjadi berarti bagiku. Setidaknya pergi membuatku bisa menulis, di tempat tidak nyaman sekalipun aku bisa menulis memang hal yang menyenangkan. Dan pergiku tak sia-sia. Yah, contohnya, tulisan ini pun selesai juga.

Baiklah, kembali melihat sekeliling sambil ngopi. Hihi.