Usb yang terhubung dengan laptopku cabut
cepat. Hapeku sudah penuh dengan batrei boros yang bisa habis dalam satu
setengah jam saja. Karena waktu yang singkat itu juga susahnya mencari tempat
untuk mencharger hape di kantin ini, aku ingin cepat-cepat menyapanya melalui
chat. Belum waktu menunggu dia membalas chatku. Belum aku yang akan kebingungan
mau membalas apa. Belum tugas yang harus aku kerjakan sebelum
teman-temanku di sini memelototiku dan mengatakan akan mencoret namaku jika aku
tidak membantu mengerjakan.
Hari libur kuliah begini harus kerja
kelompok di kantin yang mempunyai sedikit stop kontak, lebih baik aku di rumah
galau memikirkan balasan chat yang lama. Atau lebih baik aku di rumah untuk
memikirkan ingin mengirim chat apa karena sampai sepuluh menit aku masih
menatap room chatku dengan dia.
“Ngapain kamu? Mau ngechat temen?”
Aku menoleh ke Siska yang kepalanya
sedikit menyenden ke bahuku, “Iya, Sis, ini, mmm, mau ngechat habis kita kerja
kelompok mau ngajak dia jalan. Tapi lagi mikir mau ngajak ke mana heheh.”
Siska menatapku heran tapi dia tetap saja
memberi usul, “Suruh ke sini dulu aja. Mungkin bisa bantu kamu buat ngetik
hahah.”
“Ah, jangan.”
“Baik bener sama temen kamu ini. Kalo sama
aku gak baik. Sebel sama kamu.”
“Yah, jangan ngambek. Siska cuantik jangan
cebel.”
“Kalian berdua gak ngerjain?” ah, ketua
kelompok ini mulai menyindir. Dua puluh menit aku mengetik dan membaca resume
berkali-kali sambil memikirkan ingin mengirim chat apa ke dia. Apa aku akan
menganggunya di hari libur ini? Apa aku sungguh ingin mengajaknya bertemu di
hari libur ini? Apa akan di baca chatku ini?
“Kamu gak ngechat temenmu buat ngajak
jalan habis kerja kelompok ini?” Siska mengingatkan lagi. Iya, iya, aku akan
mengechatnya.
Hai
Sudah, itu dulu saja. Sengaja tidak pakai
tanda titik supaya terlihat santai. Terlalu gugup begini membuatku
memperhatikan setiap detail tata cara menulis chat yang menarik. Lima menit,
aku berdiskusi dengan ketua kelompok tentang bagian tugasku. Lima belas menit,
Siska mengajakku berdiskusi tentang makanan apa yang harus dia makan di kantin
ini. Tiga puluh lima menit, aku mulai mengerjakan bagian tugas yang lain sampai
balasan chat itu pun datang.
Ya, halo juga.
Dia membalasnya. Aku bingung. Tidak, tidak
boleh bingung. Di buat santai saja. Stay cool.
Libur kuliah ngapain?
Mmm di kampus. Ada apa, ya?
Balasannya cepat. Dan dia di kampus juga!
Kampus kami yang sama tetapi fakultas yang berbeda membuatku kadang melihat
dia. Dan diliburan kali ini bukan hal yang sia-sia ternyata gabung kerja
kelompok daripada di rumah ngetik tugas dan mengirimnya ke email ketua. Dan aku
gugup lagi untuk membalasnya.
Ngapain?
Ketemu dosen pembimbing. Ada apa nih?
Gapapa cuma nanya heheh
Oh, oke.
Eh, aku lagi di kantin kampus deket
fakultasmu nih
Iya, terus gan?
Sini lah bareng makan siang heheh
Mmm, oke.
Ha? Oke? Padahal cuma iseng karena dia
membalas chatku dengan cepat. Ternyata dia bilang oke. Aku pun menunggunya
dengan degup tak karuan di balik t-shirt biruku ini. Mengetik pun tanganku
gemetar. Sepuluh menit, aku mengecek hapeku, kali-kali saja dia ngechat aku
tanya posisi. Tapi aku melongo lama saat melihat hape mati. Ti. Ti. Ti. Aku
langsung gelagapan nyari stop kontak kosong. Mau ngecharger di laptop, tapi
laptop pun juga sudah mati. Mau numpang ngecharger di laptop Siska, Ihsan,
Kinan, laptop mereka mau mati. Ngecarger di laptop ketua, dia malah tak
mempedulikanku. Sialan. Tidak ada yang membawa T dan stop kontak letaknya ada
di belakang meja kasir. Sialan. Kantin seharusnya selain menyediakan wifi lemot
juga stop kontak yang banyak dong!
Di saat aku kebingungan ke sana- ke mari,
aku melihatnya. Di pintu masuk kantin menunduk ke hapenya dan mengetik sesuatu.
Dan jarak kami begitu dekat sampai aku bisa melihat bekas jerawat di mukanya.
Sapa? Panggil dia? Gimana? Apa dia sedang melihat foto profil di chatku dan
celingukan mencariku? Tapi sama sekali dia tidak melihat ke arahku yang ada di
sebelah kirinya yang hanya berjarak empat meja. Dan aku berdiri di sini
melihat ke arahnya dengan penuh harap. Tapi dia sudah pergi. Melongos dengan
muka datar tanpa menoleh lagi.
Aku mengutuk hape bajingan ini.
Dan kantin sialan ini.
Juga ketidakberanianku.
Tugas kembali ku ketik dengan patah
semangat.
Sepulangnya dari kampus, aku langsung
menancapkan charger ke stop kontak, menyalakan paketan, dan menunggu dengan
sabar fitur chat yang lemot saat di buka. Harus menunggu selama lima menit dan
ternyata benar, dia menunduk ke arah hapenya tadi untuk mengirim chat menanyai
posisiku di mana. Sialan.
Maaf tadi hapeku ternyata mati. Susah
nyari stop kontak di kantin.
Dua puluh lima menit.
Oke gan santai aja.
Sifat nekadku pun mulai kumat lagi.
Nanti malam ngopi-ngopi kita yuk.
Aku tidak berani membaca balasannya yang
cepat itu. Tapi, apa salahnya membuka dan kemudian lega. Atau sedih dengan
balasannya ini, Sori gan, ane jalan sama cewek ane ntar
malem. Kapan-kapan aje heheh.
Dia sudah punya kekasih. Dan tidak berapa
lama foto profil chatnya dia ganti dengan foto mesrah mereka. Aku tidak mengira
ternyata dia punya cewek. Aku terlalu bodoh ternyata mengira dia ngga straight. Aku terkecoh pose di foto profilnya yang
terlihat lemah gemulai dan senyum manis serta baju v-neck yang selalu dia pakai
saat kuliah maupun saat di foto. Aku bodoh dengan alasan wajahnya agak mirip
dengan mantan pacar homoku waktu SMA.
Aku malu mengirim pesan singkat itu ke dia hari ini. Di mana pertama kalinya aku kembali tertarik chatting dan bertemu
dengan sesama jenis yang membuatku tertarik. Mulai sekarang aku harus lebih
berhati-hati lagi dalam mengirim chat. Sesingkat apa pun chat itu, aku tak
ingin membuat orang lain tak enak hati padaku.
Untuk seseorang yang
menginspirasi
cintanya yang tak
terbalas
seperti chat