Januari 11, 2017

Surat Dini Hari

Tinta hitam menembus sampai ke belakang kertas tipis yang aku rentangkan di depanku. Tulisannya tampak diperindah dengan susah payah dengan bagian kaku di setiap lekukan. Aku menghargai usahanya. Sudah berkali-kali aku mengatakan tulisannya tidak dapat kubaca tapi dia tetap bersikeras ingin menuliskan sebuah surat. Surat cinta, dia bilang. Apa yang sudah dia tulis tidak langsung aku baca. Masih mengagumi kesanggupannya, sikap romantis yang aku ledek tidak ada di dirinya. Kertas putih itu bukan sobekan dari bagian tengah buku tulis. Bukan juga kertas tipis bergaris dengan bagian pinggirnya yang berlobang-lobang. Kertas itu putih ke abu-abuan, warna kesukaanku yang dia bilang membuatku tampak hangat untuk dipeluk (maksudnya adalah saat aku mengenakan hoodie putih keabu-abuanku itu, lho), bergaris rapat-rapat sehingga tulisannya tampak kecil dan rumet meskipun memang tampak lebih baik. Dia menekuknya menjadi dua, tanpa amplop, hanya tergeletak begitu saja di meja sebelah infusku. Baik, aku akan membaca surat tidak penting agak panjang itu. Semoga dia tidak membubuhinya dengan lelucon garing yang membuat perutku semakin mual.


Untuk yang Selalu Disertakan dalam Masa Depanku, Kita pernah berangan-angan ingin tinggal bersama seperti Dupin di Faubourg St. Germain yang sepi dan terpencil. Atau John dan Sherlock di tengah bising nan kumuhnya London. Kita akan habiskan waktu dengan membaca, berdiskusi, menulis, makan, menonton, dan melakukan apa yang tidak bisa mereka lakukan, kita dapat terus berciuman. Aku juga ingin menjadi Tom Baker bagimu. Lelucon kami sama-sama menyedihkan, rasa cinta kami juga sama, kamu sendiri kan yang bilang? Jadi itu artinya, kamu juga ingin melahirkan selusin anak? Kamu sanggup? Aku sih sanggup saja. Asal kamu memaklumiku yang masih agak geli memegang pantat-pantat bau dalam kemasan mungil itu. Apa lagi yang kita angankan ya? Aku lupa saking banyaknya. Yang selalu aku ingat hanya saat air mukamu cepat berubah sewaktu bercerita, tanganmu yang tidak bisa diam memeluntir segenggam rambut hitammu berulang-ulang, dagu lancipmu yang mengkerut saat aku menceritakan angan-anganku yang bagimu menjijikkan. Kukatakan sekali lagi, aku adalah superhero yang akan selalu menyelamatkanmu saat kamu disandera king kong di atas puncak gedung. Aku anak keturunan bangsawan yang mencari ratunya, yang kemudian aku menemukanmu terperangkap dicomberan yang menutupi kecantikanmu. Kuberitahukan juga ya, aku, jika sudah tua nanti, akan berdansa di pernikahan anak-anak kita tepat di depan toilet sehingga tidak ada yang bisa masuk ke sana kecuali mereka menonton sampai hampir ngompol! Karena aku bilang berdansa, itu berarti kamu yang akan berdansa denganku. Saat ini pasti dagu lancipmu berkerut lagi deh.

Untuk yang Selalu Diberi Kabar, aku merindukanmu dalam perjalanku yang jauh ini. Pagi ini aku pergi begitu cepat dari jadwal. Menaiki pesawat yang kamu takutkan. Bagaimana kalau aku menyuruhmu datang berkunjung kalau ketinggian saja tidak bisa kamu taklukan? Kamu mencintaiku kan? Kalahkan rasa takut itu untuk pertemuan kita segera! Tapi tak usah dipaksa. Aku juga akan bisa pulang dipelukanmu kelak. Badanku masih pegal dan hatiku tertinggal di samping bantalmu. Tolong jaga, aku juga akan merawat mata yang sedikit membengkak ini, tangan yang membeku ini, bibir yang menjadi terasa asam ini, kaki yang lemah ini karena harus berjalan menjauh barang sementara darimu. Yang masih sehat hanya telingaku, dia tidak membengkak seperti saat jika aku di sampingmu. Aneh sekali bukan? Seperti janji kita dulu, jika sudah sampai di suatu tempat saat kita tidak bersama, jangan langsung memberi kabar lewat suara. Katakan dalam aksara bahwa sudah selamat sampai tujuan. Jadi aku akan meneleponmu dua hari lagi jika diizinkan. Aku tahu ini berat, menulis dengan baik dan indah ini juga terasa berat, jadi aku akan menyudahi tulisan romantisku ini. Yang akan membuatmu kembali jatuh cinta padaku di setiap titiknya.

Haruskah aku menuliskan namaku di tandatangannya? Halah, ucapkan saja nama panggilanku yang kamu sayangi itu. Jadi, apa tulisanku sudah bisa kamu baca, kekasihku?


Aku melihat ke arah jendela. Awan putih bergulung-gulung lezat berlatar biru pekat. Angin menghembuskan daun pohon dekat jendela. Aku ingin membuka jendela itu, merasakan angin, menghilangkan sedih. Ruang kamar pasien VIP begitu luas, dingin, menakutkan. Di luar cerah, hangat, menyenangkan. Aku ingin berlari, berenang, bersepeda, berjemur, berbelanja.

Aku ingin menciummu.

Aku ingin mencintaimu lebih lama lagi.

Aku ingin kamu menjadi Tom Baker. Meskipun kamu mungkin bukan Cary Grant dalam wujud Philip Adams.

Lalu kenapa? Tidak ada yang bisa menandingimu nyatanya. Aku harus sadar hidup ini begitu singkat. Kamu adalah obat penawar dalam kelam. Janji abadi di tengah dusta penjabat. Teriakan bahagia di dalam kemalangan. Kamu, dengan nama panggilan kesayangan yang aku buat khusus untukmu, dengan ketidakkonsistenanmu dalam hal merayu, awalnya romantis ujung-ujungnya ngeselin. Kamu yang dianggap tak pernah membahagiakanku, dapat melakukannya sembunyi-sembunyi dalam benteng pertahanan kita. Jadi aku bersyukur, kamu juga mencintaiku dalam setiap keisenganmu.

Maka, kekasihku, sambil melihat langit luas yang menakutkan, aku merasa nyaman karena awan merapat membentuk ilusi lucu yang bisa kamu tebak dengan ratusan nama benda, aku berdoa agar kamu bahagia di sana meskipun kelak aku mungkin sudah tiada.

Meski singkat, seperti surat dalam lembaran kertas putih keabu-abuan, aku sangat mencintaimu kekasihku, titik.


==================================================================

Sambil mengunyah permen karet, Mozart dengan liarnya menekan-nekan tuts itu di telingaku, aku menulis ini sambil setengah melamun. Mengawang tidak jelas setengah tertidur. Jariku berisik mengetik dan terus mengetik isi kepala yang berkabut. Aku menginginkan jadwal tidur yang teratur. Selalu ingin bisa tidur setiap kali selesai membaca buku. Tapi itu hanya penundaan jadwal tidur saja jadinya. Maka aku menulis ini tanpa sebab. Dan aku mendoakan setiap tokohku akan bahagia dalam kehidupan mereka diangan-anganku yang terkadang luas. Selamat jatuh cinta dalam setiap aksara.

November 25, 2016

Racauan

Langit gelap bukan alasanku dan dia untuk berlindung di bawah atap halte bis berbau pesing. Rintik bukan detik waktu yang bisa memaksa kami menjauh dari jalanan. Bukan waktunya untuk mencari tempat berteduh. Hanya menepi. Melihat kendaraan lain melaju, menjauh, menuju kepergian yang tidak berarti.
Aku turun dari motor untuk menatap raut wajah datarnya. Senyumannya hilang berjam-jam yang lalu saat aku berhenti mendengarkan cerita omong kosongnya tentang kehilangan. Aku tidak bisa menjadi pendengar yang baik. Hanya meracau keahlianku, yang belakangan kini aku sesali. Tapi dia masih bertahan di sini. Tidak meninggalkanku di pinggir jalan atau halte bis berbau pesing. Atau membuatku berteduh sendiri. Kami masih bersama di pinggir jalan. Di bawah langit gelap. Diantara jalanan padat beritme cepat.
Masih duduk di jok motornya yang dia parkirkan di pinggir jalan, kakinya menyilang ke kiri, tangannya merogoh tas punggungnya. Bungkus rokok lusuh dan pematik Indomaret dia keluarkan. Sebatang dia sisipkan di bibir hitamnya yang aku damba, menyalakannya sambil terus menatapku yang dia benci. Hisapan candunya bagai mimpi indah, helaan asapnya kabut yang menyesatkan. Aku menatapnya terus sebagai permintaan maaf. Aku tidak ingin meracau lagi. Harus diam dan mendengarkannya kali ini. Setidaknya melihatnya menikmati penyesakkan dada itu membuatku merasa dekat dan dimaafkan.
Empat kali hisapan yang damai.
Empat kali aku meminta maaf.
Empat kali dia menatapku dengan tatapan yang berbeda: benci, memaki, menyesal, menyerah.
Dia mengulurkan bungkus rokok lusuhnya, aku menolak, "Aku sudah berhenti merokok sejak semester lima." Bungkus lusuh itu masih di depan mukaku, "Dulu, setiap kali api membakar puntungku, tanganku gemetar. Awalnya aku suka. Penolakan yang manis dari sistem tubuh. Hanya saja lama-kelamaan, aku ingin menghentikannya sebelum muak pada reaksinya. Sebelum aku membenci rokok dan orangnya. Aku tidak ingin mengengkang seseorang untuk membuatnya sehat. Menghentikan gemetaranku dan menatap seorang penikmat candu, sudah menjadi salah satu kewarasanku."
Dia tersenyum atas keegoisanku yang suka meracau terus tanpa mendengarkan. Tapi itu bukan salahku! Aku tak bisa berhenti bicara saat sedang gugup. Merokok bukan solusinya. Aku tidak ingin menyumpal mulut brengsekku dengan manis yang aku dirindukan itu. Dan aku memang sedang gugup! Selama aku berbicara, saat aku mengatakan tanganku yang sering gemetaran, dia menggenggamku lembut. Seakan menggodaku untuk terus meracau. Padahal itu hanya sebuah perangkap. Alasan bagus untuk dia terus membenciku.
Kehilangannya bukan salahku. Aku juga sedang kehilangan. Hanya aku menanggapinya dengan damai. Tanpa menyulut puntung dan menghisapnya sekali untuk mempersingkat gemetaranku. Aku meracau, dia menghisap. Kami saling kehilangan, kami mulai kehujanan.
Hujan deras bukan alasan untuk kami terburu-buru mencari tempat berteduh. Menuju halte bis bau pesing terdekat atau berjalan cepat seperti kendaraan lain yang terburu-buru menuju tempat yang tak penting.
Kami hanya beberapa menit terlambat berlindung. Terlambat menyadari kehadiran masing-masing. Terlambat untuk berhenti candu. Candu akan sosokmu, candu yang tak ingin disembuhkan. Meskipun terus membuatku meracau.