Langit gelap bukan alasanku dan dia untuk berlindung di bawah atap halte bis berbau pesing. Rintik bukan detik waktu yang bisa memaksa kami menjauh dari jalanan. Bukan waktunya untuk mencari tempat berteduh. Hanya menepi. Melihat kendaraan lain melaju, menjauh, menuju kepergian yang tidak berarti.
Aku turun dari motor untuk menatap raut wajah datarnya. Senyumannya hilang berjam-jam yang lalu saat aku berhenti mendengarkan cerita omong kosongnya tentang kehilangan. Aku tidak bisa menjadi pendengar yang baik. Hanya meracau keahlianku, yang belakangan kini aku sesali. Tapi dia masih bertahan di sini. Tidak meninggalkanku di pinggir jalan atau halte bis berbau pesing. Atau membuatku berteduh sendiri. Kami masih bersama di pinggir jalan. Di bawah langit gelap. Diantara jalanan padat beritme cepat.
Masih duduk di jok motornya yang dia parkirkan di pinggir jalan, kakinya menyilang ke kiri, tangannya merogoh tas punggungnya. Bungkus rokok lusuh dan pematik Indomaret dia keluarkan. Sebatang dia sisipkan di bibir hitamnya yang aku damba, menyalakannya sambil terus menatapku yang dia benci. Hisapan candunya bagai mimpi indah, helaan asapnya kabut yang menyesatkan. Aku menatapnya terus sebagai permintaan maaf. Aku tidak ingin meracau lagi. Harus diam dan mendengarkannya kali ini. Setidaknya melihatnya menikmati penyesakkan dada itu membuatku merasa dekat dan dimaafkan.
Empat kali hisapan yang damai.
Empat kali aku meminta maaf.
Empat kali dia menatapku dengan tatapan yang berbeda: benci, memaki, menyesal, menyerah.
Dia mengulurkan bungkus rokok lusuhnya, aku menolak, "Aku sudah berhenti merokok sejak semester lima." Bungkus lusuh itu masih di depan mukaku, "Dulu, setiap kali api membakar puntungku, tanganku gemetar. Awalnya aku suka. Penolakan yang manis dari sistem tubuh. Hanya saja lama-kelamaan, aku ingin menghentikannya sebelum muak pada reaksinya. Sebelum aku membenci rokok dan orangnya. Aku tidak ingin mengengkang seseorang untuk membuatnya sehat. Menghentikan gemetaranku dan menatap seorang penikmat candu, sudah menjadi salah satu kewarasanku."
Dia tersenyum atas keegoisanku yang suka meracau terus tanpa mendengarkan. Tapi itu bukan salahku! Aku tak bisa berhenti bicara saat sedang gugup. Merokok bukan solusinya. Aku tidak ingin menyumpal mulut brengsekku dengan manis yang aku dirindukan itu. Dan aku memang sedang gugup! Selama aku berbicara, saat aku mengatakan tanganku yang sering gemetaran, dia menggenggamku lembut. Seakan menggodaku untuk terus meracau. Padahal itu hanya sebuah perangkap. Alasan bagus untuk dia terus membenciku.
Kehilangannya bukan salahku. Aku juga sedang kehilangan. Hanya aku menanggapinya dengan damai. Tanpa menyulut puntung dan menghisapnya sekali untuk mempersingkat gemetaranku. Aku meracau, dia menghisap. Kami saling kehilangan, kami mulai kehujanan.
Hujan deras bukan alasan untuk kami terburu-buru mencari tempat berteduh. Menuju halte bis bau pesing terdekat atau berjalan cepat seperti kendaraan lain yang terburu-buru menuju tempat yang tak penting.
Kami hanya beberapa menit terlambat berlindung. Terlambat menyadari kehadiran masing-masing. Terlambat untuk berhenti candu. Candu akan sosokmu, candu yang tak ingin disembuhkan. Meskipun terus membuatku meracau.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar