Pagi ini kebangun dan langsung kepikiran sesuatu yang bikin aku terpaksa menatap langit-langit kamar yang bercat putih dengan retakan dipinggirnya. Kenapa aku tidak mengalihkan pandanganku dari atas dan melihat yang lainnya? Guling kotor-ku, misalnya. Tapi ini semua karena pikiran yang tiba-tiba terlintas di otakku yang agak miring yang membuat aku dongok sesaat.
Anehnya juga, kenapa tiba-tiba aku kepikiran hal itu? Jadi, ya, bangun jam empat karena dikageti oleh suara ga jelas yang akhir-akhir ini suka terdengar memanggil-manggil namaku ngebuat aku bertanya-tanya; 'Apa itu cinta?'
Bueeeeeeehh... Dasar cewek ababil. Baru juga jigong keluar pagi-pagi uda mikirin gituan. Belajar dulu kek. Selesaiin tuh tugas akhir! *mengguncang-guncangkan paha sendiri*
Jadi, ya, iya. Emang itu pertanyaannya. Aku yo ndak paham opo maeng seng tak pikirno... Ya namanya juga pemikir keras. Apa-apa dipikirin sampe yang ga penting sekalipun. Asal otak jalan aja. Pelajaran pun terbengkalai... (--")7
Hmmm...
Cewek itu emang pemimpi handal. Manusia di bumi yang pintar mengandalkan perasaan. Tapi tidak semuanya juga sih... Ada yang santai saja menjalani hidupnya, masa bodoh dengan masa depan. Tapi tetap, butuh cinta. Semua cewek di dunia ini pasti menginginkan kisah cintanya seromantis khayalannya. Seindah kisah cinta yang sukses terjadi seperti yang telah dialami oleh wanita-wanita di luar sana yang beruntung mendapatkan seorang pria yang berhasil membahagiakannya lahir batin.
Tapi asal tahu aja, Cinta tidak semudah itu.
Tuh kan.... sok tahu lagi. ( ._.)/||
Yah gapapa, lha. Blog-blognya siapa, ya tersutra saya lah. Lagian juga ini mau nulis uneg-uneg. Kalo situ ga mau baca ya uda, komenin aja foto saya! Ribet bet! *langsung emosi* *maklum lagi PMS* :|
Kalo buat aku pribadi, kisah cinta yang paling aku suka adalah kisah absurd orang tuaku sendiri. Kisah nyata yang bikin aku geleng-geleng kepala. Dan ngiri.
Mungkin pepatah, 'Jodohmu akan datang pada saatnya', dan lagu dangdut 'Pandangan pertama awal aku berjumpa', itu cocok buat mereka berdua.
Ngomongin tentang kisah cinta orang tuaku kayanya bisa ngebuat aku ngerti apa itu cinta. Mungkin. #okekrik
Semua ini berawal waktu SD. Lagi asik ngerumpi sama Mama dan Adek-adekku di kamar depan. Dan tiba-tiba Mama cerita tentang 'Mengapa bisa menikah dengan Papa'. Dan aku langsung mikir, kalo Mama ga nikah sama Papa, mungkin aku ngga ada di dunia ini...
Dengan muka serius ala anak SD yang haus cerita romantis, aku langsung berkhayal kalo Mama dan Papa ketemu waktu SMA, dan ngga sengaja Papa yang lagi nendang bola kena kepala Mama. Mama pingsan dan Papa pun merasa bertanggung jawab atas gegar otak Mama sampai orang tua Mama marah sama Papa dan karena uda terlanjur cinta sama Mama, akhirnya Papa dan Mama kawin lari.
Dan khayalanku ternyata basi banget.
Waktu di zaman rok seragam sekolah masih di atas puser, rambut jambul kek Lupus yang kena Lupus lagi ngetrend, dan TVRI masih eksis, Papa yang disuruh Bapaknya buat beli rokok di warung deket masjid, tiba-tiba dipanggil dengan genit oleh cewek-cewek yang asik nongkrong di sebrang warung itu. Papaku yang emang ramah sama semua cewek di kampung entu langsung menoleh dan tersenyum. Kemudian melongo. Tanpa segan, anak muda itu langsung menghampiri gerombolan cewek-cewek yang sedang asik cekikikan melihatnya yang berjalan mendekat. Pandangan matanya lurus pada satu cewek. Dengan jambul mempesona, muka manis, kulit sawo matang, dan mata besar yang menatap balik padanya dengan pandangan bertanya.
'Hay.' Kata cowok muda itu sok asik.
'Yap.' Cewek manis itu ngebales dengan kata, 'Yap'. Mampus dah tuh... si cowok muda mau ngomong apa lagi...
Para cewek cekikikan. Kik, kik, kik, ngeliat salah tingkahnya si cowok. Ini kejadian langka memang. Tidak pernah cowok alim remaja masjid ini bertingkah kikuk di depan seorang gadis mana pun di kampung entu. Ini tidak seperti biasanya. Kamera! Abadikan momen ini!!
'Err... Nama eloh siapah? Boleh kenalan donk' PLAK! cowok itu memukul pundak-lutut-kaki-lutut-kaki-nya sendiri. Basi banget omongannya. Tapi anehnya, si cewek manis malah ngerespon.
'Aku Farah. Hihihihi.'
'Aku Nasan. Panggil Aa' Caklan saja. Mihihihi.'
Mereka pun akhirnya mihihihi-hihihi sampai adzan shubuh.
Di sini lah keanehan itu mulai terkuak. Mereka berdua sudah bertahun-tahun tinggal di kampung itu. Mulai dari SD-SMP-sampai SMA di mana mereka baru pertama kali bertemu. Gila opo?! Selama itu mereka baru pertama kalinya ketemu sekarang?! Padahal si cowok uda kenal sama keluarga dan sodari-sodari si cewek, begitu pun sebaliknya. Bahkan mereka berdua juga sama-sama aktif di organisasi remaja masjid. Tapi sepertinya semesta memang belum mau mempertemukan mereka. Ini semua berkat Kakekku yang menyuruh Papa yang masih ganteng-gantengnya itu untuk membeli rokok. Dan teman-teman Mama yang dengan genit menyapa Papa sampai dia melongo melihat sosok manusia tercantik yang kelak akan menjadi Emakku. Tuhan memang Maha Humoris.
Proses perkenalan pun di mulai. Si cowok mulai rajin ngapelin si cewek setiap malam minggu. Dan kalo dandan rapi banget: rambut diklimisin, pake kemeja dimasukin, ikat pinggang melingkar di celana jins yang rajin di cuci, pake parfum Bapaknya, dan tidak lupa mengolesi Autan agar proses saling mengenal tidak diganggu oleh orang ketiga, nyamuk.
Selain dandanan ala kondangan itu, nilai plus dari si cowok adalah; dia sopan. Setiap ngapel selalu salim dulu sama orang tua si cewek. Kalo pulang jam sembilan terus pamit lagi sama orang tua si cewek. Gimana ga ngasih lampu ijo coba, kalo kelakuan si cowok kek begini. Apalagi si cewek ini anaknya pak ustad, pastilah sang Bapak ingin anaknya mempunyai jodoh yang taat beragama, sopan, dan hormat pada orang tua. Yah, dia lah Papaku kelak.
Permulaan kisah mereka pun dijalani dengan santai tanpa adanya ikatan. Tetapi mereka sadar pada perasaan masing-masing dan menetapkannya dalam hati. Dia jodohku. Meskipun banyak rintangan juga seperti orang yang naksir sama Papa sampai-sampai dia harus ngomong terus terang ke si cewek kalo yang dia suka adalah Mamaku.
Dan setelah di rasa waktunya sudah tepat, di umur yang terbilang masih muda, 22 tahun, Papa melamar Mama. Mereka nikah, punya anak, tua, sedih, bahagia, dan bersama.
Aku agak sedikit ngiri sama Mama. Beliau adalah perempuan yang aku kenal yang sangat memegang teguh prinsipnya. Dan seorang perempuan yang tegas. Yah, Mama pantas mendapatkan Papa. Seorang pekerja keras dan sangat diandalkan oleh anak-anaknya kalo lagi dapet PR yang susah.
Kisah mereka jadi bikin aku mikir lagi. Ternyata memang restu orang tua itu nomer satu. Ya, Mama direstuin banget dapet pasangan yang kaya Papa. Tapi kalo uda sayang banget dan tidak direstui orang tua gimana? Apa harus menyerah? Tapi terkadang omongan orang tua itu ada benarnya juga. Dan punya alasan tertentu kenapa tidak merestui hubungan itu.
'Kisah cinta tidak akan berakhir sampai dipelaminan saja'.
Aku ingat kata-kata ini meskipun lupa siapa yang mengatakannya. Jadi mikir lagi, kan. Susyah emang otak nyandat.
TERUS INI INTINYA APAH?!
*ndesah jengkel*
*otak beneran mulai ngandat*
*kamuh, mana kamuh?!*
Lagi-lagi pertanyaan: 'Cinta Itu Apa?', memang tidak bisa dijelaskan oleh orang macam aku. Aku juga masih belum mengerti meski sudah berkali-kali merajut kisah kasih. Tapi satu yang aku tahu persis, jika aku memiliki pasangan lagi kelak, aku akan menyayanginya. Meskipun banyak rintangan, tapi aku ingin selalu mengalami siklus ini dengannya: senang bersama, sedih bersama, kecewa tapi tetap bersama, marah masih tetap bersama, cuek tapi tetap bersama, percaya kalo kita bisa terus bersama sampai nisan yang memisahkan dunia kita.
Aku terlalu malas kalo siklus ababil yang menyerang itu lagi kambuh; pertamanya bahagia, kalo marahan langsung udahan.
Ga bosen gitu terus? Kalo aku sih uda bosen. Buat apa?
Aku kalo serius, ya serius. Meskipun satu yang masih aku khawatirkan, restu orang tua. Dijalanin dulu aja nih? Yailah, udah umur segini masih zaman ngejalanin doang, juntrungannya kagak jelas.
Jadi, sebenarnya apa sih yang aku bahas kali ini? Aku kok ndak ngerti...
Tidak peduli dengan menulis, melupakan dengan membaca. Peduli dengan menulis, mengingat dengan membaca.
September 20, 2016
September 11, 2016
Terkurung, Bukan Mengurung
Terkurung di dalam rumah selama sehari, sendiri, dengan sesuatu yang disukai: wifi, tivi kabel, buku, listrik, uang untuk beli makan siang. Bukankah nyaman? Kamu bisa internetan sepuasnya tanpa ada yang mengganggu, menonton semua film yang mungkin akan sangat canggung jika ditonton di ruang tamu saat rumah sedang ramai. Terima kasih untuk listrik yang mempercepat waktu. Hebat sekali kau tidak mengecewakan sampai sekarang. Oh ya, tadi aku menyebutkan buku. Terkadang membaca itu perlu jika semua saluran tivi yang bagus dihabiskan hari itu juga.
Sungguh sekali lagi aku katakan; Terkurung. Bukan maksudku ingin mengurung diri sendiri di rumah. Merasakan semua fasilitas ini sendirian dan tidak mengharapkan kebosanan. Pada kenyataannya aku merasa begitu bosan. Ada yang aneh di rumah, pekerjaan rumah yang menumpuk ditinggalkan begitu saja oleh yang lainnya. Aku diharapkan untuk menyelesaikan semuanya sementara wifi itu sangat menggiurkan! Aku bukan seorang multitasking! Aku hanya suka bermalas-malasan di hari libur tanpa gangguan, tanpa pekerjaan rumah, tanpa bensin kosong yang harus diisi dulu padahal hanya untuk ke indomaret saja. Bahkan ke Indomaret aku bingung harus membeli apa. Indomie? Bosan. Ice cream? Sedang batuk. Roti keju? Habis. Bir? Aku lupa, sudah tidak lagi. Sarsaparila? sedang tidak ingin. Lalu apa? Untuk apa aku ke Indomaret? Oh ya, untuk mengusir kebosanan terkurung seharian di dalam rumah. Lantas aku mengambil cheddar mini dan sup ayam instan. Hanya untuk mencampurkannya menjadi satu di dalam panci mendidih. Memakannya sambil menonton film aksi yang tidak akan enak jika ditonton bersama orang lain di rumah ini yang masih kecil, atau yang kadang sering menanyakan sesuatu saat film berjalan. Diam dan tontonlah dengan tenang!
Ya ampun, apa aku begitu menyukai ketenangan sampai sekarang rasanya menjadi sangat bosan?
Aku tidak begitu sering lagi tinggal di rumah sendirian. Selalu ikut ke mana orang tuaku pergi, atau malah dipaksa ikut atau nanti kena omelan mereka. Jika bisa, aku ingin sekali memiliki tempat tinggal sendiri. Sendirian, kemudian menjadi bosan sehingga akan kuundang beberapa teman. Dan kembali merindukan kesunyian sehingga mereka bisa aku usir kapanpun.
Keuntungan dari tinggal sendiri, adalah tidak seperti ini. Tidak seperti perasaanku sekarang. Menanti-nanti orang rumah untuk pulang sampai selarut ini. Hanya untuk tahu mereka sampai dengan selamat itu sudah membuatku bosan. Aku ingin mereka tiba secepatnya. Sehingga aku bisa mendengar suara lagi selain isi pikiran dan lagu-lagu di Soundcloud.
Seandainya aku tingga sendiri, aku tidak akan mempunyai perasaan cemas seperti ini. Secuek-cueknya aku, mengetahui orang-orang rumah belum pulang, tetap saja membuatku gelisah.
Kadang aku merasa aneh. Di saat aku ingin sendiri karena mereka yang begitu ribut, saat sendiri seperti ini, di rumah luas yang sepi ini, aku merindukan keributan mereka. Tampaknya aku akan lebih konsen menulis jika ada suara orang-orang yang aku kenal sepanjang hidupku itu. Maka dari itu aku memutar musik keras-keras, mematikan semua listrik yang tidak diperlukan sebab aku adalah orang yang cerewet masalah listrik, memanfaatkan wifi sebaik mungkin untuk mempelancar streaming soundcloud, menata buku apa yang akan aku baca terlebih dahulu saat aku sedang bosan menulis. Atau lebih tepat bingung, ngandat, buntu, apa yang sedang ingin ditulis.
Aku tidak ingin terlalu lama menunggu seseorang pulang di dalam rumah sepi. Tanpa ada kepastian. Tanpa ada perasaan tak enak merindukan kebisingan yang akrab. Meskipun begitu, pada saatnya aku akan mengalaminya kembali.
Hanya saja, terkurung di dalam rumah dengan segala fasilitas yang ada lebih membosankan daripada bersama kegelisahan yang menggelitik otak kiriku. Aku mengetik begitu cepat sampai lagu rasanya tidak terlalu terdengar. Kemudian aku berhenti dan ingin membaca kembali tulisan. Hanya saja berhenti begitu saja karena aku berpikir akan memakan waktu lagi untuk menulis kembali.
Maka aku akan terus menulis saja. Ini salah satu cara menghilangkan kegelisahan, kebosanan.
Aku ingin pergi saja ke alun-alun. Membaca di bangku. Tapi di luar terlalu ramai. Apalagi sekarang malam idul adha. Alun-alun dekat masjid, yang membuat suasana menjadi sangat meriah dijalanan. Bukan karena aku membenci keramaian. Aku hanya sedang tidak ingin. Aku sedang menikmati jari-jariku mengetik di laptop yang seharusnya digunakan untuk bekerja. Tapi sekarang filenya lebih banyak aku penuhi dengan naskah-naskah tak jadiku.
Sekarang, apa kamu sudah bosan membaca semua ini?
Ini yang aku sebalkan tentang blog. Dia bisa dibaca siapa saja. Dia bisa membuatmu ikut gelisah dengan ketidakseriusan seseorang mengurus tulisannya di blognya sendiri. Sebuah omong kosong. Catatan pribadi. Ketidakkonsistenan.
Kerinduanku kini terbayar, karena aku mendengar suara mobil mereka di depan.
Langganan:
Postingan (Atom)