April 11, 2013

Teman Sebangku.

"Dari dulu emang anak IPS?"
"Iya. kenapa?"
"Gapapa. Cuma wajah-wajahnya kamu kayak anak IPA gitu. Hehe."
...

Aku bukanlah pengingat tanggal yang baik. Mau itu hari yang spesial atau menyedihkan, aku tidak akan memusingkan pada tanggal berapa kejadian itu berlangsung. Yang penting, kejadian itu pernah terjadi di dalam hidupku. Aku mengingat dengan detail semuanya.

Hanya seorang anak nomaden. Hobi berpindah-pindah tempat. Err... bukan hobi juga sih, cuma memang keadaannya seperti itu. Bisa diingat waktu TK kira-kira tiga kali aku berpindah-pindah antarpulau. Rumah berbeda, sekolah beda, teman beda, lingkungan beda. Dan karena aku masih kecil dan tidak terlalu memusingkan apa pun, aku menjalaninya dengan santai. Tanpa drama.

Ini sudah yang keenam kalinya aku pindah. Dan sialnya, kenapa harus di saat-saat SMA ini? Di saat-saat SMA yang aku inginkan menjadi tahun-tahun yang menyenangkan seperti masa SMP. Berteman dengan yang itu-itu saja. Menjalani kehidupan yang nyaman. Menghabiskan waktu yang santai dengan teman-teman yang sudah sangat akrab.

Tapi, semesta berkata lain. Keberanianku ditantang. Jujur, aku bukanlah orang yang gampang ngoceh. Aku tahu tempat. Dan aku termasuk orang yang tidak terlalu suka banyak bicara di tempat yang tidak membuatku nyaman. Pasti akan aku tinggalkan.

Pindah ke Bontang, mimpi buruk... Meninggalkan sahabat-sahabatku di Sidoarjo. Tapi aku harus menghadapinya. Dan alhamdulillah, Bontang tak seseram pemikiranku. Aku tidak salah memilih sekolah. Aku bersekolah di sekolah islam yang kekeluargaannya sangat erat. Aku banyak belajar di sini. Dan kenyamanan ini kembali membuatku terbuai.

Aku harus pindah setahun kemudian.

Sedih, frustasi, dan marah.

Dan sekali lagi, ini hal yang aku hadapi.

Kembali ke kampung halaman. Sidoarjo. Aku sendiri yang memilih sekolah. SMA Antartika. Sekolah swasta di dekat rumah. Dengan berjalan kaki saja bisa aku capai sampai 15 menit kalo aku berjalannya sambil ngelamun.

Sekolah ini, adalah sekolah yang dulu awalnya ingin aku pilih. Seragam hijaunya yang aku sukai, dan jarak yang membuatku bisa santai berangkat sekolah, :))

Awal semester dua kelas 12.

Aku deg-degan setengah mampus. Tapi aku sudah terbiasa. Iya. Aku kembali mengingat bagaimana cara memperkenalkan diri. Waktu di Bontang, aku kebetulan di suruh memperkenalkan diri dengan bahasa Inggris. Dan semuanya berjalan lancar. Bahkan termasuk heboh... Karena teman-temanku di Bontang melongoh mendengar bahasa Inggrisku. Padahal aku ga fasih-fasih banget. Setelah aku ingat-ingat, ternyata sikap pedeku yang membuat mereka melongo begitu. Bisa dibilang over juga sih. Muahahahaha!

12IPS5.

Papa sengaja mengantarkanku ke sekolah jam 7. Padahal Antartika bel masuknya jam 6.50. Alhasil, aku yang memakai seragam putih-abu-abu sendiri, menjadi pusat perhatian. Guruku menyuruh aku duduk di kursi yang tadinya diduduki oleh seorang cowok. Dan aku agak sedikit kaget sih, soalnya di deretku itu cowok semua. Hmm... Dengan jilbab ini, aku tidak mungkin berkelakuan seronok. Jujur, aku orangnya lebih gampang akrab sama cowok...

Dan guru itu langsung menyuruhku maju ke depan untuk memperkenalkan diri. Banyak yang bersorak. Apalagi isi kelas ini sekitar 48 anak, :/ gila dah tuh ramenya. Tapi aku ini emang dasarnya cuek dan suka ngomong di depan. Lancar dah tuh memperkenalkan diri. Ternyata di depanku ada temen SMP cewek. Wuih! Enak nih! Ada temen!

Untungnya, hari pertama itu aku tidak duduk di depan deret para cowok-cowok. Teman SMPku itu menyuruhku untuk duduk di belakangnya. Kebetulan cewek yang duduk di sana lagi sakit. Berkenalanlah aku dengan teman cewek pertama. Dan penilaianku tentang dia itu: Pelit. Banget.

Aku kan anak baru. Pastinya belum punya buku paket kan? Eh, dia kagak mau berbagi! Etdah... Keesokan harinya juga gitu, ga mau nyontekin. Tapi waktu aku bisa ngerjain soalnya, eh, dia nyontek. Langsung dah tuh anak aku coret dari daftar nama teman dekat. Mana kalo diajak ngobrol jarang nyautin. Susah flasdish loak.

Hari berikutnya lagi, ternyata cewek yang saki itu udah sembuh. Aku bingung mau duduk di mana. Akhirnya teman SMPku itu menyuruhku untuk duduk di meja sebelahnya. Penghuninya belum datang. Dan setahuku yang duduk di sana dua orang cowok. Sampai pada akhirnya, aku ngeliat kamu. Menatap bingung.

"Eh, eh," panggilku ke kamu, "duduk sini gih! Masa aku duduk sendirian."

Pagi itu, dilalui dengan canggung.

Boleh jujur ndak? Dulu sempet suka lho sama kamu, :)) mungkin karena keadaan juga. Aku di sana yang masih anak baru, tiba-tiba ada seorang cowok yang ramah, ceplas-ceplos, bersahabat, yang langsung buat aku nyaman. Samapi akhirnya... Aku melihat fotomu dengan seorang cewek. Oh... Udah punya tho. Langsung aku mundur teratur. Nasib, :|

Tapi itu udah cukup juga buat aku. Dengan menjadi temanmu, aku bisa jadi lebih jujur. Makin hari, aku semakin terbuka sama kamu. Kita curhat banyak. Kamu nyeritain pacarmu. Aku? Nyeritain mantan. Beda tipis memang. Pernah kita sedang bimbel, eh, malah asik ngobrol sampai ga terasa bel pulang berbunyi. Kamu sempet ngomong, "Besok lagi curhatnya dilanjutin."

Kita makin akrab. Sampai tahu kejelekan masing-masing. Aku tahu kamu yang paling ngga bisa dibantah. Diskusi bareng, tapi kamunya yang sok pinter. Aku sampai harus sabar... Kamu hanya bersikap manis dan dewasa sama pacarmu. Sama cewek-cewek yang lain? Jahat. Bahkan bertingkah kaya anak kecil. Apalagi sama aku... Kamu udah nganggep aku cowok. Dan semena-menanya. Kaya nendang meja, kursi, buang-buangin jaketku. Pokoknya aku dibikin jengkel.

Dan kamu tahu sikap jelekku. Duduk ga bisa anteng, kaki nangkring di mana-mana. Kamu sampai harus bersabar celanamu kena sepatuku.

Kita sering ngumpulin uang bareng buat beli jajan. Saling berbagi jajan. Semua rahasia cowok kamu ceritain ke aku. Bahkan waktu kamu bawa-bawa alat kontrasepsi itu ke sekolah, :| kamu tunjukin ke aku dan cerita banyak tentang itu. Ya, kita cerita banyak tentang itu. Dan alhamdulillah tidak terjadi hal yang macam-macam. Khilaf jeburin diri ke got, misalnya.

Sampai suatu hari, kamu mengenalkanku ke pacarmu yang kebetulan satu sekolah tapi beda kelas. Cewek itu cantik banget. Dan setelah perkenalan itu, kamu cerita ke aku kalo pacarmu bilang aku cantik... Dari perkataan pacarmu itu, aku jadi sedikit was-was. Hmm... sudah saatnya aku menjaga sikap.

Sudah berusaha sekeras mungkin sikapku ku jaga. Ternyata di kelas ada yang suka mata-matain. Aku akrab dikit sama kamu, padahal lagi diskusi pelajaran, mereka lapor ke pacarmu. Hhh... Sampai pada akhirnya insiden ga mengenakkan itu terjadi.

Kita diem-dieman. Kamu nyuekin aku seminggua lebih. Kamu bahkan sampai pindah tempat duduk. Tapi sebisa mungkin aku selalu menyapamu.

Ga tau kenapa, kita kembali lagi bersitegang pada argumen-argumen yang konyol. Iya, kita kembali ngobrol setelah sekian lama, :)) aku senang bukan kepalang. Masalahnya, cuma kamu yang bisa bikin aku ketawa. Kamu bagai penyelamat. Berkat kamu, aku mulai akrab dengan yang lainnya.

Terima kasih, Romin, :p

...

Malam ini, aku yang masih lemas karena telah membuang energi yang besar saat menangis-nangis karena istighosa di sekolah, tidak menyadari kalo kamu duduk di depanku. Menunduk. Sedang smsan. Tanpa buang-buang waktu lagi, aku memanggilmu, "Min... woy kampret!"

Kamu menoleh sekadarnya. Kemudian aku bilang, "Maafin aku selama ini ya...". Tanpa menoleh, kamu mengajakku bersalaman. Lama. Salaman seorang sahabat. Aku bisa merasakannya. Kemudian kita saling menyilangkan jari kelingking. Tanpa berkata apa-apa lagi, tangan kita menjauh. Aku pulang dengan perasaan lega.

...

Semoga semua mimpimu terwujud ya, Min. Semoga keinginanmu untuk menikahi pacarmu ini terlaksana. Amiinn

Hanya itu doa yang bisa aku ucapkan.

Teman sebangkumu.

2 komentar:

  1. Wahhh jadi ini novel yah :)bagus ceritanya


    Tapi kok ane nyasar di siniyah??? Padahalkan ane lagi nyari bokep hadehhh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bukan novel ini, kisah nyata hehe. Wah anda ini sangat begitu.

      Hapus