Pada dekapan malam yang dingin tak bersahabat itu
Otakku bekerja ekstra
antara memikirkanmu dan berusaha untuk memperbaiki semua
keheningan malam ternyata tidak berguna
Pada dekapan malam itu
aku tak kuasa bersua
ingin teriak, tapi tak mampu
ingin menghujatnya
tapi ku takut
Siapa memangnya aku?
Aku hanya bayangan cintamu
yang terkabul
Aku sekadar pelampiasanmu
pelampiasan cintamu
Aku tak lebih seorang yang hanya bisa mengisi setengah hatimu
Sisanya?
Malam itu aku ragu
aku takut cinta ini terlalu dalam
aku takut air mata ini akan sia-sia
Kemudian, Otak ini berkata;
'Sekarang siapa yang bodoh?
Aku atau hatimu?'
---
Tidak ada yang namanya kebetulan. Semua itu sudah direncanakan oleh Otakku. Dia bekerja, berpikir ekstra. Aku harus apa, aku harus bagaimana... Perasaan tidak ikut ambil peran. Dia hanya menunggu hasilnya saja.
Semua sudah aku rencanakan.
Jatuh cinta, salah satunya.
Ada yang aku campakan. Ada yang aku tinggalkan. Ada yang aku harapkan. Semuanya sudah aku rencanakan. Dia, dia, dan dia. Punya posisinya masing-masing.
Aku sudah tidak percaya lagi sama yang namanya; ikuti kata Hatimu. Hatimu yang tahu siapa sebenarnya yang kamu cintai.
Tidak. Hatiku sudah beku akan kesedihan yang dingin. Sudah tidak berfungsi.
Tapi malam itu, aku malah menertawakan Otakku. Otak jelas terkejut. Dia shock aku sudah beubah. Aku menjawab lantang pada Otak; 'Tidak ada yang bodoh antara kamu dan Hatiku. Kalian sama. Aku membutuhkan kalian. Untuk cintaku, aku benar-benar membutuhkan kalian. Lucu jika kamu merasa diri sendiri hebat. Bukankah kalian harusnya melengkapiku? Agar aku bisa terus bersamanya? Otak, kamu ada agar aku masih tetap bisa berpikir jernih. Bahwa dia memang yang aku pilih. Kita pernah diskusikan hal ini dulu, kan? Saat aku serius bilang ke kamu kalo aku memilihnya? Hati, maafin otak ya yang uda kasar... Kamu juga aku butuhkan kok. Aku mencintainya karena aku memang tulus. Bukankah kamu yang mempunyai hak untuk siapa aku ikhlaskan perasaan ini dipercaya oleh siapa? Dan aku minta maaf ya... Aku sudah salah menilaimu. Aku kira itu hanya omong kosong. Pekerjaan Otak memang hebat. Dia pintar juga membuatku lupa kalo aku masih punya perasaan. Aku bodoh ya?'
Hati tak lantas menjawab. Otak yang malah langsung mencercaku dengan logikanya.
'Kamu bodoh jika tidak menggunakanku. Siapa yang peduli dengan perasaan jika itu sendiri yang membuatmu sakit? Kamu memang sudah mengambil keputusan ini dengan bulat. Iya, kamu yang bilang sendiri padaku, kamu memilih dia. Kita sudah membicarakannya. Aku tentu saja setuju. Karena setiap mengambil keputusan, kamu harus berdiskusi dulu denganku. Oh iya, wahai teman sejawatku, Hati yang selalu disakiti, apa kamu pernah membahagiakan Dara? Tidak kan? Sejak dulu. Sejak dia mengenal cinta. Sekarang dia berada dipihakku. Yang sama-sama membenci, eh, tidak, sama-sama tidak membutuhkanmu. Dan Dara, tolong, cabut perkataanmu tadi. Kamu tidak ingin sakit lagi, kan?'
'Aku...'
'Cukup otak. Dinginkan dulu jasadmu...'
Aku dan otak terdiam. Hati begitu lembut menegurnya. Aku penasaran, apa yang akan dia ucapkan pada Otak. Apa dia akan membela dirinya sendiri? Dan aku akan kembali bingung pada keadaan ini. Mereka beradu. Aku sudah siap dengan belati di tanganku. Reflek Otak begitu cepat menyuruhku menggerakkan tangan ini...
'Otak, apa kamu sehat?'
Hati kembali menegur dengan lembut.
Aku dan Otak kembali terdiam.
'Dara, apa kamu sehat?'
Aku menggeleng kepala. Otak bahkan tidak sempat memerintahku.
'Kalian sama-sama egois atau bagaimana sih?'
'Kau menyebutku ''egois'', teman sejawat?'
'Wahai otak, kita sudah lama saling mengenal. Tapi aku tidak percaya, kamu begitu cepat menuduhku bahwa aku lah yang membuat Dara selalu menderita. Coba kita telaah kembali. Tahun 2009. Bukankah kamu dan aku sama-sama membuat Dara jatuh cinta padanya? Pada kekasih pertama Dara? Orang yang berhasil Dara dapatkan. Otak, kamu memang yang keukeuh membuat Dara untuk memilihnya. Tapi aku tahu dengan sangat baik, Otak, Dara tidak mencintainya. Ini semua hanya karena kepintaranmu, membuat Dara berbohong pada perasaannya. Padaku. Yang kecewa siapa pada akhirnya? Aku.'
Aku dan Otak kembali terdiam. Mengenang.
'Kita ingat lagi tahun 2010. Itu pengalaman Dara yang paling bodoh. Jatuh cinta hanya karena ingin balas dendam. Otak, kamu sungguh jahat. Kenapa kamu membuat Dara memilih orang itu? Padahal aku tahu dengan sangat baik, dia tidak mencintainya. Sekarang, coba kita ingat lagi tahun 2012...'
'CUKUP!' aku berteriak marah pada Hati. Tidak tahu mengapa dia sungguh kejam malam itu. 'Haruskah kamu membuatku mengingat sakit hati itu? Aku salah tentang kalian berdua... kalian sama-sama jahat! Aku tidak membutuhkan kalian! Aku benci! Aku lelah!'
Malam itu, aku meletakkan Otak dan Hatiku di ruangan terpisah... Aku tertidur dengan nafas memburu. Air mata yang ternyata sekarang menemaniku.
--
Pagi datang begitu cepat. Entah sejak kapan, aku tak tahu, Otak dan Hati berada di sampingku. Menatap sendu. Otak berkata lirih, 'Maafkan aku Dara... ternyata memang aku ini sangat egois.'. Dan Hati juga menimpali, 'Aku juga minta maaf Dara. Aku juga ternyata egois. Aku terbawa perasaan. Ini memang sudah kodratnya. Aku juga salah. Sangat.'
Aku tersenyum simpul saat Otak memukul pelan Hati dan berkata, 'Jangan terlalu menyesal begitu dong! Kamu kan Hati, harus tabah!'
Aku memang membutuhkan mereka berdua. Tidak ada lagi yang namanya 'Siapa yang lebih aku butuhkan'. Mereka bagian dari diriku sendiri. Sudah saatnya aku menggunakannya dengan bijak. Mereka temanku sejak aku dilahirkan. Teman untuk belajar menyayangi keluarga, teman, dan orang-orang terdekat lainnya. Menjauhi orang-orang yang bisanya hanya bikin sakit hati. Sekarang, mereka bersatu. Dan sama-sama setuju, bahwa orang itu adalah orang yang aku cintai. Itu saja.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar