Rahang kaku melelah, enak. Apa yang ditunggu, sabar. Jam bergerak dari lantai satu lantai dua. Wah, kau mencoba memaksa memperpendek waktu..
Aku angguk kepala bukan tanda setuju. Hanya ingin kau bahagia. Angguk lagi, meradang..
Sakit, sakit, dirasa sakit. Terbelah bagai perut tercesar perih. Terluka seperti jatuh dari sedal sepeda runcing. Sakit, sakit...seperti terbelah.
Sunyi hembusan napas, mengapa begitu tertahan keluar?
Semakin petang, gelap. Langit mulai memainkan kuasnya. Kau juga memainkan kuasmu dan aku hanya terpanah. Menangis hampir aku di balik tangan.
Senja begitu gelap bagiku sekarang. Sementara. Kemudian kembali cerah saat tahu semua baik-baik saja.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar