Ada keinginan untuk berhenti.
Harus kah?
Aku punya mimpi.
Dan kadang, mimpi itu hanya ingin aku jadikan bunga tidur pengharum lelapku.
Kadang.
Pernah kah kamu berhenti berharap?
Sering.
Pernah kah kamu berhenti mencoba?
Sering.
Ada jawab di setiap doa.
Dan ada seseorang yang selalu mendukungmu untuk mimpi itu.
Orang tuaku, terutama Papa, beliau benar-benar sabar hadapin aku. Sampai akhir pun, dia terus dibelakangku. Mendorong dengan bisikan doanya.
Mama selalu disampingku. Membuat waktuku yang membosankan dipenuhi air mata karena candaannya. Aku tertawa lepas saat bersamanya.
Bener-bener liburan yang menyebalkan. Gimana gak nyebelin? Di liburan kali ini aku harus belajar buat masuk kuliah. Bahkan aku gak tau apa yang harus aku pelajarin. Sebelum tes SBMPTN, orang tuaku daftarin aku di tempat les. Membosankan. Aku masih ingat waktu itu, gak bawa apa-apa, pensil atau tas, aku langsung di anter ke tempat les dan ditinggal gitu aja sama orang tuaku dengan bekal uang sepuluh ribu. Pada dasarnya itu memang keinginanku sih, buat pulang sendirian jalan kaki ke rumah yang jaraknya lumayan jauh. Aku ingin menikmati kesendirian. Tapi tidak dengan buku-buku pelajaran dari tempat les yang kemungkinan beratnya mencapai duapuluh kilo! Kaget banget waktu ngeliat tumpukan buku besar-besar itu. Sampai aku harus minta tas kresek besar buat menampung semuanya. Dan sialnya lagi, saat itu juga ada try out. Jadi aku gak bisa pulang dulu sebelum ngerjain seratus soal campuran itu. Oke, kalo yang ini gampang, tinggal ngisi aja dan baca seperlunya. Tinggal tas kresek brengsek ini aja yang bikin aku males. Berat!
Tiga jam try out, perutku udah gak bisa diem. Bener-bener deh nguras otak ternyata juga nguras lambung. Aku hampir kena maag. Di warung dekat tempat les itu aku makan sendirian dengan beberapa tatap mata yang melihat aku aneh. Sendirian, bawa tas kresek gede, dan mesen makanan banyak.
Padahal tempat lesku lumayan deket rumah kalo ditempuh pake motor. Tapi selama dua minggu les, aku cuma masuk tujuh kali. Sisanya aku bolos ke rumah temen. Bener-bener...
Dan hasil dari les itu pun gak ada. Waktu ujian SBMPTN pun gak ada soal yang ngeh. Tapi tetap harus diisi bukan?
Hmm, kalo inget waktu ujian SBMPTN agak lucu juga. Ujian yang berlangsung dua hari itu ngebuat aku kembali berangan-angan. Aku pengen banget masuk di universitas yang jauh dari surabaya, dari sidoarjo, dari rumahku. Entah karena tekanan yang berat atau apa, selama hari mendekati ujian, aku selalu bertengkar dengan orang tuaku. Aku yang keras kepala lah, aku yang gak bisa diatur, aku yang malas, aku yang, aku yang, aku yang tak bisa memberi terbaik.
Aku bosan di rumah ini.
Maka dari itu, ujian SBMPTN ini benar-benar bikin aku berdoa terus agar lolos. Supaya aku bisa kuliah yang jauh dari sini. Agar tak ada suara teriakan bebal keluar memekikkan telinga Tuan. Harus.
Suka warna merah gak? Aku lumayan suka sih. Tapi tidak untuk warna merah kali ini.
Harus senyum. Aku bilang pada diri sendiri harus senyum. Warna merah itu masih membekas di kepalaku. Aku nggak lolos.
Udah bener-bener down dan gak enak hati sama orang tuaku. Bahkan aku gak ngomong sampe malem kalo aku udah liat pengumumannya.
Sejak ujian SBMPTN itu aku gak nyari kuliahan lagi. Aku terlalu menikmati liburan dan menghabiskannya dengan hobiku. Baca, main ps, dan menghindari tatap mata kedua orang tuaku. Aku pengen sendiri.
Tapi Papa nggak ngebiarin aku begini saja. Beliau ngasih tau kalo ada kuliah politeknik D3 yang bisa langsung kerja di daerah Jemursari, Surabaya sana. Udah ngobrol-ngobrol sama orang sana, Papa bertanya lagi untuk meyakinkanku. Apa aku ingin di sini? Sebenarnya tidak. Mau gimana lagi.
Apa aku begitu mudahnya menyerah?
Sepertinya iya. Saat itu aku ingin sekali masuk jurusan bahasa atau akuntansi. Tapi gak keterima di dua-duanya. Aku masih shock dan begitu saja mengiyakan kalo aku ingin di sana.
Akhirnya liburan yang aku inginkan pun datang, dan tidak terlalu lama. Ampun! Papa nyuruh aku buat ikut ujian masuk kuliah lagi! Ujian D3 di UNAIR. Ujian lagi, belajar lagi. Kali ini gak tau aku kesurupan apa, aku begitu giat belajar. Buset! Bahkan aku rela dua minggu gak main ps. Tapi lagi-lagi aku gak lolos di ujian ini. Padahal aku sudah berjuang habis-habisan, berdoa dengan tekun, berusaha gak berantem sama orang tua, dan berusaha menurunkan tingkat keegoisanku.
Aku sudah berusaha Tuan.
Teringat bagaimana waktu yang dihabiskan orang tuaku untuk mengantarku, menyemangatiku, membentakku dengan kalimat yang sudah tak bisa mereka tahan lagi. "Kamu niat gak sih?!"
Lagi-lagi kuliah swasta itu terngiang-ngiang di telingaku. Ada keinginan untuk menolak. Tapi di mana lagi aku harus mencoba? Di lain hari, Papa memberitahuku kalo ada lagi ujian di UNAIR jalur mandiri.
Kali ini, harus.
Pernah kah kamu merasa dipermainkan takdir?
Aku merasa seolah alfabet di kertas ujianku ini adalah isi dari sampah.
Jengah mata ini melihat soal-soal yang tak dapat ku jelaskan.
Bagaimana tidak? Aku yang anak IPS ini memilih IPC yang di mana soal-soal ujiannya campur dengan pelajaran anak IPA. Mampus! Ini soal gak pernah aku pelajarin sama sekali dan membuatku pusing bukan kepalang. Ah, biar saja deh. Aku jawab seperlunya.
Setiap kali aku ujian, keluargaku selalu ada untuk mengantarku. Untuk mendukungku dengan doa dan canda saat aku menceritakan betapa susahnya soal-soal yang baru saja aku hadapi. Ha!
Tuan, tak habisnya aku menggerutu pada takdir
Tapi Tuan selalu ada untukku
Sebenarnya Tuan ini tulus tidak mendoakanku?
Tuan, jangan kau jawab sekarang
Entah mengapa aku tahu akhirnya
Esok, Tuan, esok yang akan menjawab
Jadi Tuan, bisa kah kamu berada di belakangku kembali mendoakan?
Sepertinya Ia mendengarkan keluh lidah basahmu pada setiap kata.
Kita lihat nanti, Tuan
Kita lihat
Sebentar lagi ospek mahasiswa seluruh Indonesia di mulai. Untungnya UNESA masih membuka kesempatan untuk D3-nya. Hhh... Aku bosan. Saking bosannya aku gak belajar sama sekali. Aku hanya bisa pasrah. Dan kali ini ada tes wawancaranya segala. Gak tau kenapa kalo denger tes wawancara aku selalu merasa tenang. Itu cuma perasaanku sepertinya.
Ujian lagi, menyentuh pensil 2B lagi, inget nomer ujian lagi, fotocopy ijazah lagi, foto lagi, duduk di tempat asing lagi dengan keadaan sunyi. Kepala ditekuk ke bawah. menikmati rasa pegal pada setiap sendi yang aku tau di mana harus memijitnya. Tes wawancara yang memang diadakan setelah ujian, membuatku kecapaian. Habis ujian biasanya aku bisa langsung rebahan di mobil. Tapi sekarang harus mengantri selama sejam di ruangan kecil penuh ibu-ibu dan bapak-bapak yang mendampingi anaknya karena tes wawancara ini harus ditemani walinya.
Sejam menunggu dan aku mulai kasihan melihat kedua orang tuaku. Mereka masih mau menemaniku sejauh ini. Aku harus menampilkan kesan yang baik waktu wawancara nanti.
Giliranku di panggil. Orang tuaku di suruh ke meja belakang untuk mengisi formulir. Wawancara ini tiba-tiba buat aku gugup hanya karena pertanyaan dari pewawancara yang menanyai, " Kenapa anda mau masuk di jurusan akuntansi? Memangnya cita-cita anda apa?". Dan jawabanku pun melenceng jauh. "Saya ingin sekali, bu, bisa masuk di jurusan akuntansi. Cita-cita saya penulis." Ibu itu langsung melotot kaget. "Lho, jauh banget!" Memangnya kenapa? Itu jalan yang aku inginkan kok. Kuliah jurusan akuntansi yang sudah aku sukai sejak kelas sebelas dan memang cita-citaku penulis. Setidaknya aku mengatakan hal ini di dalam hati.
Wawancara dilanjutkan dengan bahasa inggris. Curcol dikit lah waktu itu.
Kali ini Tuan, aku pasrah pada takdir
Biar aku kalah, biar aku menang
Tuan akan tetap dibelakangku bukan?
Mendoakanku
Akan kah selalu?
Tak ada lagi angan untuk masa depan. Kembali lagi aku menikmati hobiku di pagi ini, main ps. Akhirnya aku berhasil menyelesaikan misi di game ini yang membuatku berminggu-minggu frustasi menghadapi boss-nya. Begitu pun juga aku telah berhasil pada hal lain. Suara Cove Reber membuatku tak sadar pada keadaan. Mataku tajam menatap layar, dan tangan ini meraba-raba stick ps. Mama yang ada di bawah berteriak-teriak. Awalnya aku terganggu, tapi kemudian penasaran. Apaan sih?
"Kamu lolos!"
Kamu percaya kesempatan terakhir?
Entahlah
Bagiku aku sekarang mempercayai Tuan
Ini kan yang Tuan inginkan?
Mempermainkan prasangkaku
Akan kah aku percaya
Bahwa hidup ini hanya tentang kesempatan dan perjuangan
Bahkan orang-orang yang dicintai pun akan selalu ada
Dan berteriak marah pada aku yang buta pada arah
Lupa akan angan
"Kamu serius nggak sih?"
Pada akhirnya aku hanya perlu berjuang cukup lama.
Entahlah aku mau ngomong apa, usahamu keren. Tak ada yang sia-sia selama diperjuangkan. Selamat!
BalasHapusJangan lupa teraktiran cirengnya ya.
Kalo kamu ke Surabaya, ya, Yan.
Hapus