Kelas enam
SD adalah saat-saat di mana aku lebih suka mengisi buku yang masih kosong
dengan cerita-cerita yang absurd banget kalo sekarang aku harus membacanya
kembali… Kalo hobi nulisku udah muncul sejak kelas enam SD, berarti uda hampir
tujuh tahun aku gagal terus menulis novel. --'
Tapi aku
santai-santai aja (santai terus malah) sih menerima kenyataan ini. Mungkin
karena aku terlalu sibuk (pret) jadi terkadang ada jeda lama dalam membuat satu
naskah. Dan hasilnya ya begitu deh, lupa apa yang mau ditulis.
Kalo
ditanya aku spesialis nulis cerita bergenre apa, aku juga masih nyoba-nyoba dan
mencari jati diri sih… Dan aku punya banyak pengalaman absurd selama berkutat
dengan hobi ini…
Waktu kelas
enam, aku lagi seneng-senengnya nonton film Asia di Indosiar, Silent. Yang
pemerannya si ganteng itu tuh (lupa namanya). Dan aku dikasih Papa sebuah
Notebook yang Beliau dapatkan dari HokBen. Nah, gara-gara Notebook yang keren
itu tiba-tiba aku jadi ada keinginan mau nulis. Entah mengapa…
Ide pertama
yang terlintas dipikiranku pun bisa dibilang masih agak aneh. Jadi, ide pertama
yang terlintas adalah cerita tentang seorang cewek yang pergi ke Cina bareng
sahabatnya naik kapal pesiar. Di sana dia ketemu sama Aktor ganteng… terus…
(males ngelanjutin. Soalnya pasti pada uda tau).
Rasa jenuh
dari kelabilan seorang cewek yang baru PMS ini pun muncul. Aku bosen sama ide
itu. Ngga ada gambaran untuk kelanjutan ceritanya pula. Jadilah ide itu hanya
sebuah naskah setengah jadi. Padahal aku udah selesai bikin penokohannya…
Lagi, dan
lagi, aku ternyata masih suka menulis meskipun ideku terus beubah-ubah. Aku
terus mencoba. Dan dari kelas enam sampai kelas tujuh ternyata pemikiranku agak
cabul. Aku pernah beberapa kali bikin cerita esek-esek. Padahal nyoba aja ga
pernah. Ini semua gara-gara laptop seken punya salah satu keluargaku yang waktu
aku razia ternyata punya bejibun bokep. Ngomongin soal bokep, waktu pertama
kali sengaja ga ngeliat aku sempet nangis masaaaaaa… abis nangis langsung ketagihan lagi. #lha
Ya,
gara-gara bokep itu aku sama sahabatku yang emang juga punya hobi nulis,
langsung bekerja sama menulis novel esek-esek. Dengan pemeran utamanya kami
berdua. Dan para pemeran pembantunya adalah nama semua teman-teman sekelas
kami. Kami memang cewek-cewek cabul. --" Entah darimana ide menulis begituan
muncul. Kami bahkan sempet hampir mau mimisan karena menulis salah satu adegan
homo. Padahal belum pernah nonton bokep homo…
Bukannya
mau buka aib sih. Cuma mau ngasih tau aja proses dari pencarian jati diriku di
dalam kegiatan tulis menulis ini.
Aku sempet
bikin cerita humor juga. Entah terinspirasi dari mana. Padahal aku belum pernah
baca novelnya Raditya Dika atau bahkan novel non-fiksi komedi favorit aku;
Romeo And Toilet yang ceritanya bikin ngakak mampus. Karena cerita humorku di
baca sama teman-teman sekelas, alhasil hampir temen-temen cewek sekelasku pada
terinspirasi. Mereka pada ikutan nulis cerita. Sampai- sampai ada temenku yang
ngecopas salah-satu dialog konyolku pada ceritanya sampai dia di marahin
temen-temen yang ga suka sama caranya. Aku sih ga marah waktu itu. Soalnya ga
ngerti apa itu copas… iya, aku lugu.
Menulis
juga uda menjamur di kalangan temen-temen cowokku. Ada temenku yang menulis
tentang fantasi. Baca ceritanya bikin aku puyeng… bukan karena keren sih. Tapi
karena salah satu tokohnya adalah temanku yang dia jadikan imagenya di cerita
seperti cewek nakal, seksi, dan berbahaya! Ternyata selain menulis juga menjadi
ajang dia berimajinasi tentang temen cewekku itu… Dan kebanyakan teman-teman
yang aku baca ceritanya mengenai pengalaman yang mereka jalani sendiri saat
itu. Tentang cinta lah tentunya…
Bikin
cerita ala-ala novel yang ditranslate ke Indonesia pun pernah aku buat. Dengan
menggunakan kata Aku-Kamu, sok-sok kemenginggris, nama dan tempat yang
kebule-bulean, dan sekali lagi cerita tentang anak SMA.
Pernah mau
bikin cerita tentang misteri. Eh, ga berhasil. Ternyata otakku ga nyampek.
Hobi
menulisku ini sudah diketahui oleh mantan-mantanku. Disebut mantan-mantan
karena yang berasa kaya beneran pacaran emang cuma dua manusia aja. Yang
lainnya tidak usah dianggap saja (kaya punya banyak laki aja lo). Dan mereka
berdua ini ga tau punya otak yang sama atau gimana, sama-sama ingin aku buatku
sebuah cerita… Perkataan mereka juga sama, ‘Bikin novel tentang cerita kita
dong, ay…’
Tanpa
berpikir dua kali aku langsung membuat karangan cerita di otakku. Hmm, hmm,
hmm. Uda dapet bayangan, langsung deh aku tulis.
Kisah yang
aku buat untuk mantan pertamaku, aku mulai dengan kisah nyatanya yang
menyedihkan saat dia masih kecil. Aku masih ingat waktu dia nangis nyeritain
kisah masa kecilnya itu. Dan tiba-tiba memintaku untuk menuliskannya dalam
bentuk narasi. Agak deg-degan juga sih. Masalahnya dia pacar pertamaku, dan
ceritanya memang kasian banget…
Tapi kebiasaanku
memang tidak pernah bisa berubah. Ada rasa jenuh dan aku lagi banyak konflik
sama dia yang membuatku malas untuk melanjutkan cerita itu… Dengan berakhirnya
hubungan kami, selesai juga cerita itu tanpa adanya epilog. Terbengkalai begitu
saja.
Mantan
kedua ku pun juga begitu. Saat aku cerita tentang hobiku, dia langsung
memintaku menceritakan kisah kami. Hmm, bisa dibilang ceritanya fiksi tapi
dengan tokoh kami berdua. Dan cerita yang aku buat ini bener-bener aneh… karena
di sini aku menceritakan mantanku itu sosok yang keren dan pinter basket. Dia
emang pinter main basket sih, tapi… (ga tega ngelanjutin). Sekali lagi aku
merasakan kejenuhan itu. Malas meneruskannya. Dan alasannya sama seperti yang
pertama, adanya konflik dan rasa sayang yang semakin berkurang. Ternyata aku
memang tidak cocok dengan cowok matrek yang masih kekanak-kanakan. :(
Menceritakan
kisah cinta ternyata memang susah… mungkin karena aku belum mengerti apa itu
cinta. Aku masih kecil dan masih belum sepenuhnya merasakan hal itu. Aku lebih
memilih menulis kisah konyol saja. Atau curhatan-curhatan yang aku tulis di
blog ini tentang keseharianku.
Menulis
memang mengandalkan imajinasi. Tapi aku terlalu capek untuk bermimpi. Kenyataan
lebih indah daripada mimpi pada akhirnya. Dan itu yang membuatku sekarang agak
malas untuk menulis cerita fiksi. Pernah mencoba menulis tentang cerita
persahabatan. Tapi tetap saja ada unsur cinta dan ciuman.
Aku masih
mencari jati diri. Mencari sebenarnya apa yang ingin aku tulis. Banyak yang
bilang kalo menulis itu ngga usah pake mikir. Menulis ya tulis aja apa yang
kamu pikirkan. Hasilnya bisa belakangan. Tapi masalahnya aku adalah orang yang
ribet. Dan masih belum ada hasrat lagi untuk menulis cerita fiksi.
‘Berusaha
dan terus berusaha!’
Semua
menyemangatiku. Dan semangatku kadang timbul, kadang tenggelam entah ke mana
terbawa oleh sinar matahari yang perlahan-lahan meredup. Ternyata aku masih
suka menulis semua uneg-unegku. Bukan apa yang sedang aku imajinasikan di
pikiranku. Aku masih terus belajar untuk masalah ini. Hasilnya juga aku jadi
tahu cara menulis, mengarang, dan membuat dialog. Terus belajar. Aku masih menganggap
diriku belum mampu.
Ingin aku
menyelesaikan satu novel saja. Aku tidak berpikir tentang uang yang akan aku
hasilkan, atau kritikan dari orang lain. Yang penting ada satu yang bisa aku baca sendiri dari awal sampai akhir. Jejak-jejak goresan kerja kerasku. Tapi ini lah aku.
Masih malas, masih banyak ribuan alasan untuk tidak melanjutkan satu ide cerita
saja.
Ternyata
menulis memang masih menjadi hobi sampinganku di mana aku hanya bisa bengong
dan tidak ada orang lain yang aku pikirkan selain jalan ceritaku, maka aku akan
menulis. Dan terbengkalai lagi…
Menyedihkan
memang. ^^
Setelah
membaca-baca lagi, tulisan ini agak acakadut juga… ya, nama juga aku menulis
semua uneg-unegku. Apa yang aku pikirkan. Akhir-akhir ini aku juga sedang
memikirkan seseorang. Seorang cowok yang bahkan bertemu saja belum pernah. Aku
juga tidak tahu dia tulus atau tidak padaku yang memang sedikit menyimpan rasa
padanya… YAELAAAH AKU BARUSAN ABIS NULIS PAAAANN??
Au da.
Menulis,
masih menjadi teman di waktu senggangku. Masih menjadi tempatku untuk mengarang
kisah yang pada akhirnya akan terbengkalai juga. Ditinggal bersama waktu yang
berputar dan warna langit yang masih seenaknya suka berganti warna.
Ada saatnya
aku akan berjuang untuk diriku sendiri. Dan ada masanya aku akan berjuang untuk
orang lain yang aku cintai.
Semoga tulisan-tulisan
ini akan membuktikan, bahwa aku pernah hidup dan berfikir dengan caraku menghadapi sendiri
bagaimana randomnya kenyataan ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar