Februari 03, 2013

Tulisan Itu, Uneg-Uneg.


Kelas enam SD adalah saat-saat di mana aku lebih suka mengisi buku yang masih kosong dengan cerita-cerita yang absurd banget kalo sekarang aku harus membacanya kembali… Kalo hobi nulisku udah muncul sejak kelas enam SD, berarti uda hampir tujuh tahun aku gagal terus menulis novel. --'

Tapi aku santai-santai aja (santai terus malah) sih menerima kenyataan ini. Mungkin karena aku terlalu sibuk (pret) jadi terkadang ada jeda lama dalam membuat satu naskah. Dan hasilnya ya begitu deh, lupa apa yang mau ditulis.

Kalo ditanya aku spesialis nulis cerita bergenre apa, aku juga masih nyoba-nyoba dan mencari jati diri sih… Dan aku punya banyak pengalaman absurd selama berkutat dengan hobi ini…

Waktu kelas enam, aku lagi seneng-senengnya nonton film Asia di Indosiar, Silent. Yang pemerannya si ganteng itu tuh (lupa namanya). Dan aku dikasih Papa sebuah Notebook yang Beliau dapatkan dari HokBen. Nah, gara-gara Notebook yang keren itu tiba-tiba aku jadi ada keinginan mau nulis. Entah mengapa…

Ide pertama yang terlintas dipikiranku pun bisa dibilang masih agak aneh. Jadi, ide pertama yang terlintas adalah cerita tentang seorang cewek yang pergi ke Cina bareng sahabatnya naik kapal pesiar. Di sana dia ketemu sama Aktor ganteng… terus… (males ngelanjutin. Soalnya pasti pada uda tau).

Rasa jenuh dari kelabilan seorang cewek yang baru PMS ini pun muncul. Aku bosen sama ide itu. Ngga ada gambaran untuk kelanjutan ceritanya pula. Jadilah ide itu hanya sebuah naskah setengah jadi. Padahal aku udah selesai bikin penokohannya…

Lagi, dan lagi, aku ternyata masih suka menulis meskipun ideku terus beubah-ubah. Aku terus mencoba. Dan dari kelas enam sampai kelas tujuh ternyata pemikiranku agak cabul. Aku pernah beberapa kali bikin cerita esek-esek. Padahal nyoba aja ga pernah. Ini semua gara-gara laptop seken punya salah satu keluargaku yang waktu aku razia ternyata punya bejibun bokep. Ngomongin soal bokep, waktu pertama kali sengaja ga ngeliat aku sempet nangis masaaaaaa…  abis nangis langsung ketagihan lagi. #lha

Ya, gara-gara bokep itu aku sama sahabatku yang emang juga punya hobi nulis, langsung bekerja sama menulis novel esek-esek. Dengan pemeran utamanya kami berdua. Dan para pemeran pembantunya adalah nama semua teman-teman sekelas kami. Kami memang cewek-cewek cabul. --" Entah darimana ide menulis begituan muncul. Kami bahkan sempet hampir mau mimisan karena menulis salah satu adegan homo. Padahal belum pernah nonton bokep homo…

Bukannya mau buka aib sih. Cuma mau ngasih tau aja proses dari pencarian jati diriku di dalam kegiatan tulis menulis ini.

Aku sempet bikin cerita humor juga. Entah terinspirasi dari mana. Padahal aku belum pernah baca novelnya Raditya Dika atau bahkan novel non-fiksi komedi favorit aku; Romeo And Toilet yang ceritanya bikin ngakak mampus. Karena cerita humorku di baca sama teman-teman sekelas, alhasil hampir temen-temen cewek sekelasku pada terinspirasi. Mereka pada ikutan nulis cerita. Sampai- sampai ada temenku yang ngecopas salah-satu dialog konyolku pada ceritanya sampai dia di marahin temen-temen yang ga suka sama caranya. Aku sih ga marah waktu itu. Soalnya ga ngerti apa itu copas… iya, aku lugu.

Menulis juga uda menjamur di kalangan temen-temen cowokku. Ada temenku yang menulis tentang fantasi. Baca ceritanya bikin aku puyeng… bukan karena keren sih. Tapi karena salah satu tokohnya adalah temanku yang dia jadikan imagenya di cerita seperti cewek nakal, seksi, dan berbahaya! Ternyata selain menulis juga menjadi ajang dia berimajinasi tentang temen cewekku itu… Dan kebanyakan teman-teman yang aku baca ceritanya mengenai pengalaman yang mereka jalani sendiri saat itu. Tentang cinta lah tentunya…

Bikin cerita ala-ala novel yang ditranslate ke Indonesia pun pernah aku buat. Dengan menggunakan kata Aku-Kamu, sok-sok kemenginggris, nama dan tempat yang kebule-bulean, dan sekali lagi cerita tentang anak SMA.

Pernah mau bikin cerita tentang misteri. Eh, ga berhasil. Ternyata otakku ga nyampek.

Hobi menulisku ini sudah diketahui oleh mantan-mantanku. Disebut mantan-mantan karena yang berasa kaya beneran pacaran emang cuma dua manusia aja. Yang lainnya tidak usah dianggap saja (kaya punya banyak laki aja lo). Dan mereka berdua ini ga tau punya otak yang sama atau gimana, sama-sama ingin aku buatku sebuah cerita… Perkataan mereka juga sama, ‘Bikin novel tentang cerita kita dong, ay…’

Tanpa berpikir dua kali aku langsung membuat karangan cerita di otakku. Hmm, hmm, hmm. Uda dapet bayangan, langsung deh aku tulis.

Kisah yang aku buat untuk mantan pertamaku, aku mulai dengan kisah nyatanya yang menyedihkan saat dia masih kecil. Aku masih ingat waktu dia nangis nyeritain kisah masa kecilnya itu. Dan tiba-tiba memintaku untuk menuliskannya dalam bentuk narasi. Agak deg-degan juga sih. Masalahnya dia pacar pertamaku, dan ceritanya memang kasian banget…

Tapi kebiasaanku memang tidak pernah bisa berubah. Ada rasa jenuh dan aku lagi banyak konflik sama dia yang membuatku malas untuk melanjutkan cerita itu… Dengan berakhirnya hubungan kami, selesai juga cerita itu tanpa adanya epilog. Terbengkalai begitu saja.

Mantan kedua ku pun juga begitu. Saat aku cerita tentang hobiku, dia langsung memintaku menceritakan kisah kami. Hmm, bisa dibilang ceritanya fiksi tapi dengan tokoh kami berdua. Dan cerita yang aku buat ini bener-bener aneh… karena di sini aku menceritakan mantanku itu sosok yang keren dan pinter basket. Dia emang pinter main basket sih, tapi… (ga tega ngelanjutin). Sekali lagi aku merasakan kejenuhan itu. Malas meneruskannya. Dan alasannya sama seperti yang pertama, adanya konflik dan rasa sayang yang semakin berkurang. Ternyata aku memang tidak cocok dengan cowok matrek yang masih kekanak-kanakan. :(

Menceritakan kisah cinta ternyata memang susah… mungkin karena aku belum mengerti apa itu cinta. Aku masih kecil dan masih belum sepenuhnya merasakan hal itu. Aku lebih memilih menulis kisah konyol saja. Atau curhatan-curhatan yang aku tulis di blog ini tentang keseharianku.

Menulis memang mengandalkan imajinasi. Tapi aku terlalu capek untuk bermimpi. Kenyataan lebih indah daripada mimpi pada akhirnya. Dan itu yang membuatku sekarang agak malas untuk menulis cerita fiksi. Pernah mencoba menulis tentang cerita persahabatan. Tapi tetap saja ada unsur cinta dan ciuman.

Aku masih mencari jati diri. Mencari sebenarnya apa yang ingin aku tulis. Banyak yang bilang kalo menulis itu ngga usah pake mikir. Menulis ya tulis aja apa yang kamu pikirkan. Hasilnya bisa belakangan. Tapi masalahnya aku adalah orang yang ribet. Dan masih belum ada hasrat lagi untuk menulis cerita fiksi.

‘Berusaha dan terus berusaha!’

Semua menyemangatiku. Dan semangatku kadang timbul, kadang tenggelam entah ke mana terbawa oleh sinar matahari yang perlahan-lahan meredup. Ternyata aku masih suka menulis semua uneg-unegku. Bukan apa yang sedang aku imajinasikan di pikiranku. Aku masih terus belajar untuk masalah ini. Hasilnya juga aku jadi tahu cara menulis, mengarang, dan membuat dialog. Terus belajar. Aku masih menganggap diriku belum mampu.

Ingin aku menyelesaikan satu novel saja. Aku tidak berpikir tentang uang yang akan aku hasilkan, atau kritikan dari orang lain. Yang penting ada satu yang bisa aku baca sendiri dari awal sampai akhir. Jejak-jejak goresan kerja kerasku. Tapi ini lah aku. Masih malas, masih banyak ribuan alasan untuk tidak melanjutkan satu ide cerita saja.

Ternyata menulis memang masih menjadi hobi sampinganku di mana aku hanya bisa bengong dan tidak ada orang lain yang aku pikirkan selain jalan ceritaku, maka aku akan menulis. Dan terbengkalai lagi…

Menyedihkan memang. ^^

Setelah membaca-baca lagi, tulisan ini agak acakadut juga… ya, nama juga aku menulis semua uneg-unegku. Apa yang aku pikirkan. Akhir-akhir ini aku juga sedang memikirkan seseorang. Seorang cowok yang bahkan bertemu saja belum pernah. Aku juga tidak tahu dia tulus atau tidak padaku yang memang sedikit menyimpan rasa padanya… YAELAAAH AKU BARUSAN ABIS NULIS PAAAANN??

Au da.

Menulis, masih menjadi teman di waktu senggangku. Masih menjadi tempatku untuk mengarang kisah yang pada akhirnya akan terbengkalai juga. Ditinggal bersama waktu yang berputar dan warna langit yang masih seenaknya suka berganti warna.

Ada saatnya aku akan berjuang untuk diriku sendiri. Dan ada masanya aku akan berjuang untuk orang lain yang aku cintai.

Semoga tulisan-tulisan ini akan membuktikan, bahwa aku pernah hidup dan berfikir dengan caraku menghadapi sendiri bagaimana randomnya kenyataan ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar